Balada si Skripsi- Wannable, coz Learnable (PART 1)


Oke, mungkin saya orangnya kurang istiqomah, maksudnya males, maka saya akan menulis entry ini dalam Bahasa Indonesia saja.

Skripsi. S e k r I p s i. Siapa yang lagi skripsian hayo? Ya siapa lagi. Pasti mahasiswa semester akhir, which is, in 2018, is me. Let me tell u something.

Pekan depan, persis tanggal 7 Juli 2018, adalah batas akhir sidang skripsi S1 untuk bisa ikut yudisium di semester berjalan ini. Dosen pembimbing saya udah menjadwalkan sidang hari Jumat pekan depan, tanggal 6 Juli.

Engga. Saya ga butuh disemangatin.

Input data penelitian aja belum mulai karena kemarin file nya bermasalah. So I have to go through the entire thing once again. The paper-based questionnaires. Ya sejujurnya memang belum sebanyak itu yang diproses datanya sih. Anyway. Kalo mungkin blogger lain yang membahas masalah skripsi bercerita tentang pengalaman unik (dan kadang miris) mereka pribadi, sebenarnya cuma ada satu hal yang menurut saya paling penting untuk dishare tentang skripsi, terutama buat mereka yang baru mau mulai, yang diwakili sama tiga kalimat dibawah:

Santai aja. Ga usah panik duluan. Semua bisa dipelajari.

Kalo ada hal hal yang terlalu rumit untuk dipelajari sendiri, semacam statistical analysis, tanya sama mereka yang jago. Kalo di FKM UI ada program studi peminatan biostatistik yang memang fokus belajarnya di olah data penelitian dan lain-lain yang butuh analisis statistik, nah mintalah diajarin sama temen yang berasal dari prodi itu. Atau lebih simpelnya diskusi sama temen sejurusan yang sudah selesai sidang skripsi (atau di awal, ujian proposal) duluan.

Another thing is, skripsi itu bukan kompetisi. Ngga tau sih sebenarnya, tapi saya merasa sebagian dari teman-teman menganggap skripsi itu semacam kompetisi. Siapa yang mulai duluan, siapa yang selesai duluan maka dia yang menang. Truthfully, doing an undergrad thesis research is not, and will never be, a competition among you. Because it’s just something we all (if its is a must) have to go through to be graduate from college. So we can kick in the real adult world entirely. It is just another phase in life.
Jadi ga perlu panik kalau ada temen yang sudah selesai pengerjaan skripsinya duluan.. Ga perlu panik dalam artian merasa tersaingi atau merasa down, merasa diri bodoh karena temen kamu kok kayaknya lancar banget prosesnya sementara kamu kesusahan. Tapi jangan terlalu santai juga nanti ga kelar kelar skripsinya, haha. But you get the point lah. Hal lain terkait rasa panik adalah, kamu bisa mengubahnya jadi energi yang mendorong kamu untuk maju. Serius. Kalo saya ga panik, misalnya, saya ga akan mulai menginput data dengan kecepatan proses data Apple Macbook Air, setelah sebelumnya Cuma dengan kecepatan xiaomi (eh itukan hp ya). Intinya rasa panik dalam kadar yang wajar malah bisa jadi menguntungkan buat kamu, karena berdasarkan pengalaman, kalo saya ga panik, tenang, justru saya akan beneran ga ngerjain apa-apa dan membuat progress pengerjaan skripsi terhambat.

Caranya gimana?
Contohnya, lain kali merasa panik (tugas udah mendekati deadline, dkk), jangan bilang sama diri sendiri supaya tenang. Ubah itu jadi itu energi tambahan untuk bisa berpikir,
“Oke, tenggat waktunya sebentar lagi, tapi saya lama banget ngerjainnya sampai mepet deadline. Apa yang bikin saya ga fokus ya? Saya harus melakukan apa supaya progressnya lebih cepat?”

Pemikiran diatas itu bukan murni pemikiran saya, tapi ide yang didapat dari buku karya Adam Grant, Originals. And it was scientifically proven. By real researches yang dikutip dalam buku, dan dari pengalaman pribadi juga.
Benefitnya kalo dapet pembimbing skripsi yang juga baik dan benar-benar ngajarin kamu. Seperti ibu PA saya. Bukan mau promosi diri, tapi beneran beliau baik banget. Lebih sering beliau yang menghubungi duluan malah nanyain perkembangan saya. Pun di weekend. Dan beliau ga pernah marah kecuali dengan cara yang santun. Bingung kan marah yang santun tu gimana haha. Maksudnya ga pernah menegur kesalahan saya dengan cara ngomel2, selalu baik-baik.

TAPI. Ga semua pembimbing skripsi se suportif itu, bukan mau julid, tapi itu kenyataan. Kalo itu yang terjadi sama kalian, cari kekuatan lain dari dukungan keluarga dan pastinya, diskusi sama temen2 yang juga lagi berjuang. So, skripsi itu harus dikerjakan dengan wannable, karena memang learnable.

Kalo kata pembimbing saya Mrs. T, “hayo semangat”. Hayo semangat!

Comments