Pertama dan utama, saya ini orangnya ngga baik hati. I’m not a nice girl. I really am not.
Saya orangnya (berusaha untuk selalu) jujur. Saya ngga akan bilang suka kalau saya ga suka, kecuali itu berhubungan sama ibu saya, apalagi kalau beliau lagi sensitif. With parents, sometimes the best way to keep peace in the house is just by agree with them, really.
Dari pengalaman saya belajar bahwa, walaupun apa yang kita bilang itu benar, tapi kalo penyampaiannya ga tepat, reaksi orang ga akan seperti yang kita harapkan. Walaupun in the end of the day, kita ga bisa mengontrol orang lain juga sih. Intinya! If you really know me, then you won’t say to others that I’m a nice girl. Because I’m a nagging person. Saya ngga suka dengan jawaban yang tidak masuk akal. Kalau saya mengkritik penyelenggaraan acara suatu organisasi dan jawaban dari panitia berupa pembelaan diri, yang ga saya butuhkan, saya akan tanya lagi. Kalau ngga dapat jawaban juga, saya menganggap mereka memang ngga kompeten tapi ngga mau mengakui hal itu. Didikan dari orangtua dan saudara-saudara membentuk saya seperti ini. Benar ya benar. Salah ya salah. Titik. Bukan berarti orang ngga boleh berbuat salah, karena siapa yang bisa? Tapi kalo kita salah yaudah. Cari cara memperbaikinya, atau at least minta maaf dengan tulus. Jangan cari pembenaran atas kesalahan itu.
Itulah sebabnya ketika ada yang memulai pembicaraan dengan kalimat
“aku tau kamu tuh lebih pinter dari aku..”
“ Aku mau jujur sama kamu..” (lah dari kemarin emang kalo ngomong ngga jujur?)
Ewww. I’m cringe. Satu hal. Kita ga lagi syuting sinetron, kita ngga lagi main drama. Bukan lagi nulis puisi. Bilang aja maksudnya apa dengan jelas. Pahit ya pahit, manis ya manis. Setiapkali ada yang memulai omongan dengan model kalimat ky gitu, feels like, orang itu mau melempar saya dengan batu dan dengan “bermanis-manis” sebelum melempar itu dia berharap saya ngga akan marah setelah dilempari batu. Freaks.
Kalopun omongan kamu bikin saya marah, ya sudah. Itu sudah resikonya. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Ada aksi ada reaksi. Kita bisa usaha, misal mau mengkritik seseorang, bicara dengan kalimat yang santun. Tapi reaksi orang itu terhadap omongan kita, sepenuhnya itu urusan dia.
Sebagian besar, saya ga akan bilang gapapa ketika saya ngerasa ada apa-apa. Sesederhana itu. And I’m not your mom. Saya ga bertanggung jawab terhadap perasaan kamu. Saya ngga punya kewajiban untuk bermuka manis ketika saya ngga pengen bermuka manis, kecuali mungkin, itu menyangkut orangtua atau guru saya. Orang lainnya, terutama yang masih seumuran, saya anggap yaa..saya anggap mereka ngga selayaknya baperan ga jelas karena perbedaan pendapat. Kita masih sama-sama muda. Fairplay aja. Ga seperti orangtua yang cara berpikirnya sudah sulit diubah dan ga bisa dipaksa menerima hal baru. Udah gitu aja.
Hanya catatan random dari orang yang merasa ilfil yang ga berkesudahan dengan drama kehidupan yang tidak perlu. Btw ada post bagus dari salah satu blogger dan youtuber fav saya disini. Can't agree more, Kak Gita.
Saya orangnya (berusaha untuk selalu) jujur. Saya ngga akan bilang suka kalau saya ga suka, kecuali itu berhubungan sama ibu saya, apalagi kalau beliau lagi sensitif. With parents, sometimes the best way to keep peace in the house is just by agree with them, really.
Dari pengalaman saya belajar bahwa, walaupun apa yang kita bilang itu benar, tapi kalo penyampaiannya ga tepat, reaksi orang ga akan seperti yang kita harapkan. Walaupun in the end of the day, kita ga bisa mengontrol orang lain juga sih. Intinya! If you really know me, then you won’t say to others that I’m a nice girl. Because I’m a nagging person. Saya ngga suka dengan jawaban yang tidak masuk akal. Kalau saya mengkritik penyelenggaraan acara suatu organisasi dan jawaban dari panitia berupa pembelaan diri, yang ga saya butuhkan, saya akan tanya lagi. Kalau ngga dapat jawaban juga, saya menganggap mereka memang ngga kompeten tapi ngga mau mengakui hal itu. Didikan dari orangtua dan saudara-saudara membentuk saya seperti ini. Benar ya benar. Salah ya salah. Titik. Bukan berarti orang ngga boleh berbuat salah, karena siapa yang bisa? Tapi kalo kita salah yaudah. Cari cara memperbaikinya, atau at least minta maaf dengan tulus. Jangan cari pembenaran atas kesalahan itu.
Itulah sebabnya ketika ada yang memulai pembicaraan dengan kalimat
“aku tau kamu tuh lebih pinter dari aku..”
“ Aku mau jujur sama kamu..” (lah dari kemarin emang kalo ngomong ngga jujur?)
Ewww. I’m cringe. Satu hal. Kita ga lagi syuting sinetron, kita ngga lagi main drama. Bukan lagi nulis puisi. Bilang aja maksudnya apa dengan jelas. Pahit ya pahit, manis ya manis. Setiapkali ada yang memulai omongan dengan model kalimat ky gitu, feels like, orang itu mau melempar saya dengan batu dan dengan “bermanis-manis” sebelum melempar itu dia berharap saya ngga akan marah setelah dilempari batu. Freaks.
Kalopun omongan kamu bikin saya marah, ya sudah. Itu sudah resikonya. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Ada aksi ada reaksi. Kita bisa usaha, misal mau mengkritik seseorang, bicara dengan kalimat yang santun. Tapi reaksi orang itu terhadap omongan kita, sepenuhnya itu urusan dia.
Sebagian besar, saya ga akan bilang gapapa ketika saya ngerasa ada apa-apa. Sesederhana itu. And I’m not your mom. Saya ga bertanggung jawab terhadap perasaan kamu. Saya ngga punya kewajiban untuk bermuka manis ketika saya ngga pengen bermuka manis, kecuali mungkin, itu menyangkut orangtua atau guru saya. Orang lainnya, terutama yang masih seumuran, saya anggap yaa..saya anggap mereka ngga selayaknya baperan ga jelas karena perbedaan pendapat. Kita masih sama-sama muda. Fairplay aja. Ga seperti orangtua yang cara berpikirnya sudah sulit diubah dan ga bisa dipaksa menerima hal baru. Udah gitu aja.
Hanya catatan random dari orang yang merasa ilfil yang ga berkesudahan dengan drama kehidupan yang tidak perlu. Btw ada post bagus dari salah satu blogger dan youtuber fav saya disini. Can't agree more, Kak Gita.
Comments
Post a Comment