Si Abang
“Aunty subscribernya berapa?”
“Sepuluh”
“yahh cuma sepuluh. Aunty ngomongin apa sih? Bukan buat anak-anak ya..makanya ga banyak yg nonton”
Izy
“Aunty subscribernya berapa?”
“Sepuluh”
“Yah cuma sepuluh. Ga seru ni aunty”
Itu adalah penggalan conversation saya dengan anak-anak krucil kelas 2 dan 3 SD mengenai youtube channel saya.
Ponakan2 saya yang kepinteran sampe udah bisa ngebedain memori internal HP sama RAM. Apasih bedanya? Haha. Saya tau bedanya apa tp ga ngerti perbedaan apa yang dibuat oleh perbedaan itu terkait kinerja HP. Like that. Waktu itu saya cuma ketawa aja. Tapi dalam hati mikir, iya yak kok subscriber saya di yuotube ga nambah-nambah sih? Padahal memilah konten buat yg mana yang mau dibuat video, mengedit video biar bagus, ga bikin orang bosen liat muka saya yang kebanyakan berhenti buat mikir, itu butuh waktu. Sempat minder. Jadi males. Tapi lalu saya bertanya lagi, loh tujuan kamu ngeyoutube tu awalnya karena apa? Buat terkenal? Dijadiin sumber penghasilan? Ngga.
Saya masuk ke youtube karena ada banyak hal yang ingin saya bagikan ke orang-orang diluar sana dan sepertinya ga muat kalo ditaro di caption Instagram. Facebook saya jarang pake, blog ga semua orang suka berselancar di blog. Saya naro video di youtube supaya mungkin saya bisa berbagi pemikiran sama orang-orang yang butuh nasihat tapi ngga tau mesti kemana. Berbagi sama mereka yang sepemikiran sama saya biar mereka ga ngerasa sendirian dan lebih yakin sama diri mereka sendiri. Gitulah. Supaya curhat-curhat saya, keresahan saya, bisa sedikit ada manfaatnya buat orang lain dan bukan cuma menuh-menuhin berlembar2 buku diari.
Hubungannya sama hate comments apa?
Ya itu tadi, saya sempat merasa minder karena omongan ponakan2 saya, walaupun mereka ga bermaksud buruk. Tapi sedikit banyak dari kita pasti pernah berkomentar terhadap apa yang dilakukan orang lain, hasil dari usaha orang lain, tanpa mikirin pilihan kata kita, tanpa mikirin akibatnya buat orang itu. Buat seorang youtuber pemula ditanyain udah berapa jumlah subscriber tu ibarat mahasiswa tingkat akhir ditanya skripsi udah sampe mana. Apalagi yang sedang menghadapi dua-duanya, masya Allah ujian hidup ini..
Itu ponakan saya ngomongnya nada biasa aja. Gimana dengan omongan kita, ketikan kita, di sosmed, yang jelas-jelas menghina? Terlepas dari itu, menurut saya orang tuh bisa lebih kejam di sosial media karena beberapa alasan.
1. Mereka ga kenal sama orang yang mereka timpuki komen nyinyir.
Banyak orang baik diluar sana yang bilang, ngapain sih kita ribut sama orang yang ga kita kenal. Nah, menurut saya justru karena ga kenal, ga liat mukanya, orang secara ga sadar jadi lebih “berani” berkata-kata pedas. Karena risikonya rendah. Kalo ga kenal, ga ada kemungkinan bertatap muka (kalopun tatap muka ga bakal sadar itu orang yang pernah ribut sama dia di kolom komentar), ga ada kemungkinan awkward moment pas ketemu karena kemarin abis berantem.
2. Jari mulai mengetik sebelum otak selesai memproses semua informasi.
Ini bisa ngerti lah ya. Dalam keadaan emosi marah terutama, kita cenderung langsung mengetik tanpa membiarkan otak kita, hati kita, melengkapi semua faktanya, merenungi kejadiannya. Makanya kata-kata yang keluar suka ngawur.
Saya biasanya kalo emosi terhadap sesuatu di media sosial, saya nulis aja di jurnal. Kadang panjang, kadang ngga. Habis itu saya baca lagi dan kadang geli sendiri kenapa saya marah cuma karena hal sekecil itu. Kalo ngga mau kebanyakan mikir, atau lagi ga ad kertas di sekitar kita, back to home. Keluar dari platform media sosial itu dan balik ke layar home HP kita. Kadang saya juga ngerekam suara kekesalan saya, atau opini saya tentang bagaimana seharusnya orang-orang berpikir dalam masalah itu, apa aja yang pengen diomongin, di voice recorder HP (kalo lagi sendirian di kamar, di tempat umum mah ga mungkin ya).
Terus ada masalah social media background check. Waktu itu saya nonton film singkat berjudul Jejak di LINE. Terus orang-orang pada komen gitu kan, karena si tokoh utama di film itu gagal dapat beasiswa untuk exchange karena pas di sosmed check ada video inappropriate yang mencakup memberikan miras ke anjingnya sampe si anjing teler di postingan Facebooknya. Sama si hate comments tadi. Ada komen yang bilang sosmed background check itu bukan hal baru, dst dkk. Tapi intinya adalah, sebenarnya kenapa sih institusi pemberi beasiswa, atau pemberi kerja, menganggap penting sosmed checking ini?
Karena orang yang nulis di komen sama yang mereka temui di dunia nyata adalah orang yang sama. Kelakuan kita secara online secara ga langsung menyatakan kepribadian, kualitas diri kita secara offline.saya suka banget sama caranya Erik Qualman said about this in his book Digital Leader,
“Live as if your mother is watching”
Apakah kamu akan perang komen dengan mengeluarkan nama-nama hewan kalo ibu kamu akan baca chat itu?
Apakah seseorang akan ngebully temennya di sekolah kalo ibunya ada disana?
Apakah remaja-remaja SMA yang lagi siap-siap tawuran ga malu kalo ibu mereka liat mereka?
If only everyone keep that in mind.
“Aunty subscribernya berapa?”
“Sepuluh”
“yahh cuma sepuluh. Aunty ngomongin apa sih? Bukan buat anak-anak ya..makanya ga banyak yg nonton”
Izy
“Aunty subscribernya berapa?”
“Sepuluh”
“Yah cuma sepuluh. Ga seru ni aunty”
Itu adalah penggalan conversation saya dengan anak-anak krucil kelas 2 dan 3 SD mengenai youtube channel saya.
Ponakan2 saya yang kepinteran sampe udah bisa ngebedain memori internal HP sama RAM. Apasih bedanya? Haha. Saya tau bedanya apa tp ga ngerti perbedaan apa yang dibuat oleh perbedaan itu terkait kinerja HP. Like that. Waktu itu saya cuma ketawa aja. Tapi dalam hati mikir, iya yak kok subscriber saya di yuotube ga nambah-nambah sih? Padahal memilah konten buat yg mana yang mau dibuat video, mengedit video biar bagus, ga bikin orang bosen liat muka saya yang kebanyakan berhenti buat mikir, itu butuh waktu. Sempat minder. Jadi males. Tapi lalu saya bertanya lagi, loh tujuan kamu ngeyoutube tu awalnya karena apa? Buat terkenal? Dijadiin sumber penghasilan? Ngga.
Saya masuk ke youtube karena ada banyak hal yang ingin saya bagikan ke orang-orang diluar sana dan sepertinya ga muat kalo ditaro di caption Instagram. Facebook saya jarang pake, blog ga semua orang suka berselancar di blog. Saya naro video di youtube supaya mungkin saya bisa berbagi pemikiran sama orang-orang yang butuh nasihat tapi ngga tau mesti kemana. Berbagi sama mereka yang sepemikiran sama saya biar mereka ga ngerasa sendirian dan lebih yakin sama diri mereka sendiri. Gitulah. Supaya curhat-curhat saya, keresahan saya, bisa sedikit ada manfaatnya buat orang lain dan bukan cuma menuh-menuhin berlembar2 buku diari.
Hubungannya sama hate comments apa?
Ya itu tadi, saya sempat merasa minder karena omongan ponakan2 saya, walaupun mereka ga bermaksud buruk. Tapi sedikit banyak dari kita pasti pernah berkomentar terhadap apa yang dilakukan orang lain, hasil dari usaha orang lain, tanpa mikirin pilihan kata kita, tanpa mikirin akibatnya buat orang itu. Buat seorang youtuber pemula ditanyain udah berapa jumlah subscriber tu ibarat mahasiswa tingkat akhir ditanya skripsi udah sampe mana. Apalagi yang sedang menghadapi dua-duanya, masya Allah ujian hidup ini..
Itu ponakan saya ngomongnya nada biasa aja. Gimana dengan omongan kita, ketikan kita, di sosmed, yang jelas-jelas menghina? Terlepas dari itu, menurut saya orang tuh bisa lebih kejam di sosial media karena beberapa alasan.
1. Mereka ga kenal sama orang yang mereka timpuki komen nyinyir.
Banyak orang baik diluar sana yang bilang, ngapain sih kita ribut sama orang yang ga kita kenal. Nah, menurut saya justru karena ga kenal, ga liat mukanya, orang secara ga sadar jadi lebih “berani” berkata-kata pedas. Karena risikonya rendah. Kalo ga kenal, ga ada kemungkinan bertatap muka (kalopun tatap muka ga bakal sadar itu orang yang pernah ribut sama dia di kolom komentar), ga ada kemungkinan awkward moment pas ketemu karena kemarin abis berantem.
2. Jari mulai mengetik sebelum otak selesai memproses semua informasi.
Ini bisa ngerti lah ya. Dalam keadaan emosi marah terutama, kita cenderung langsung mengetik tanpa membiarkan otak kita, hati kita, melengkapi semua faktanya, merenungi kejadiannya. Makanya kata-kata yang keluar suka ngawur.
Saya biasanya kalo emosi terhadap sesuatu di media sosial, saya nulis aja di jurnal. Kadang panjang, kadang ngga. Habis itu saya baca lagi dan kadang geli sendiri kenapa saya marah cuma karena hal sekecil itu. Kalo ngga mau kebanyakan mikir, atau lagi ga ad kertas di sekitar kita, back to home. Keluar dari platform media sosial itu dan balik ke layar home HP kita. Kadang saya juga ngerekam suara kekesalan saya, atau opini saya tentang bagaimana seharusnya orang-orang berpikir dalam masalah itu, apa aja yang pengen diomongin, di voice recorder HP (kalo lagi sendirian di kamar, di tempat umum mah ga mungkin ya).
Terus ada masalah social media background check. Waktu itu saya nonton film singkat berjudul Jejak di LINE. Terus orang-orang pada komen gitu kan, karena si tokoh utama di film itu gagal dapat beasiswa untuk exchange karena pas di sosmed check ada video inappropriate yang mencakup memberikan miras ke anjingnya sampe si anjing teler di postingan Facebooknya. Sama si hate comments tadi. Ada komen yang bilang sosmed background check itu bukan hal baru, dst dkk. Tapi intinya adalah, sebenarnya kenapa sih institusi pemberi beasiswa, atau pemberi kerja, menganggap penting sosmed checking ini?
Karena orang yang nulis di komen sama yang mereka temui di dunia nyata adalah orang yang sama. Kelakuan kita secara online secara ga langsung menyatakan kepribadian, kualitas diri kita secara offline.saya suka banget sama caranya Erik Qualman said about this in his book Digital Leader,
“Live as if your mother is watching”
Apakah kamu akan perang komen dengan mengeluarkan nama-nama hewan kalo ibu kamu akan baca chat itu?
Apakah seseorang akan ngebully temennya di sekolah kalo ibunya ada disana?
Apakah remaja-remaja SMA yang lagi siap-siap tawuran ga malu kalo ibu mereka liat mereka?
If only everyone keep that in mind.
Comments
Post a Comment