Karier sesuai Passion atau Karier seiring Gaji


Hidup ini bagai skripsi, banyak bab dan revisi yang harus dilewati. Tapi akan selalu berakhir indah, bagi mereka yang pantang menyerah.

- Alitt Susanto, penulis Skripshit

Otak manusia itu emang aneh.

Contohnya nih, saya lagi mendalami pembahasan skripsi saya tentang minuman ringan berpemanis, atau sugar-sweetened beverages. Semakin banyak saya baca berbagai jurnal mengenai dampak negative SSBs, semakin saya pengen minum itu. Apalagi cuaca lagi panas-panas gini. Musim ngga jelas.

Sampai pada satu kesimpulan : cara kerja otak itu memang paling ngga bisa ditebak. Anak gizi kok makan mie instan? Anak gizi kok minumannya ginian? You know, anak gizi juga manusia. Mereka terpapar iklan, ngeliat vending machine (yaampun harusnya ku ngefoto tu vending machine di kampus buat tambahan pembahasan) yang isinya seolah bersinar di tengah terik matahari siang, ceilah, mencium wangi waffle dan crepes yang lagi dipanggang di pojokan RIK.

Pernah bahkan teman saya berkomentar pas lihat bekal makan siang saya,
“Ih Hanifa lu sehat banget sih! Bawaannya sayur kukus..gue paling ga bisa makan sehat, ga bisa gue.”

Ya ampun ya. Kuliah di jurusan kesehatan itu ga cukup mengubah kebiasaan makan orang. Kalo saya jadi menteri kesehatan atau anggota DPR, saya akan meloloskan peraturan yang membatasi jumlah iklan fast food dan SBs di tempat umum, dan jenis minuman yang boleh diperjualbelikan di area sekitar sekolah. Habis itu langsung dilengserin sama industri besar haha. Lingkungan itu berpegaruh besar lebih dari yang kita kira. Ada gunanya juga saya baca tu jurnal ampe berhari-hari.

Btw saya habis nonton My Career Story –nya Subhi Taha, dan ngerasa benar-benar lagi ada di keadaan yang ngga jelas seperti yang pernah Subhi alami. Saya terlalu sibuk melakukan hal-hal lain dibandingkan menyelesaikan skripsi, tapi despite omongan beberapa orang yang kagum karena saya bikin video YouTube dan ngeblog disaat masih mengerjakan skripsi, kadang saya ngerasa itu semua cuma pencitraan. Like, right now, I’m almost completely broke. Uang beasiswa yang sya dapat pas semester 5 dan 6 yang jumlahnya lumayan besar, habis ga ada sisa. Jadi pas tahun terakhir pengajuan beasiswa saya ngga ada yang tembus, akhirnya saya kembali ke old way: minta uang sama kakak. Sekarang ini hal itu juga lagi sulit. Ya saya ada satu pekerjaan, tapi itu cuma satu kali seminggu.

Udah banyak lamaran kerja –semuanya part time- yang saya kirim, dua kali wawancara, sisanya ngga ada kabar. I feel it like what Subhi says: Sometimes I don’t want to be an adult. Being an adult is hard. Mikirin membiayai diri sendiri, apalagi dengan pengeluaran kesehatan yang banyak, kinda scary. Haruskah saya mulai kerja sekarang sebelum officially lulus kuliah? Bagaimana caranya apa yang kita kerjakan itu menjadi yang kita sukai? Bagaimana supaya kita bisa teguh memilih mengerjakan yang kita mau walaupun dari segi keuangan pas-pasan? Karena kadang, apa yang kita bilang passion kita tuh sebenarnya Cuma sesuatu yang kita tau gampang dan kita bisa ngerjainnya. Bukan sesuatu yang benar2 so-called passion. Apa poster yang saya buat di atas benar-benar berdasarkan passion?

Hm. I really want to be a pro videographer, atau at least a freelance videographer at my spare time. Tapi aku bertanya-tanya apakah karena itu lebih mudah dilakukan dibandingkan jadi, misalnya, ahli gizi di puskesmas atau dietisien di rumah sakit.

Comments