The Rosie Effect: Review Buku

Baru kenalan sama yang namanya booktube, dimana orang-orang memposting segala sesuatu tentang buku: opini, review, rekomendasi buku. Saya ingin buat yang seperti itu tapi ada aja halangannya. Seperti dompet saya yang entah keselip kemana.

So! Ini tentang The Rosie Effect karya Graeme Simsion. Buku ini adalah sekuel dari The Rosie Project, yang masuk ke buku favorit bulan Agustus. Secara umum, cerita ini adalah tentang hubungan Don dan Rosie, dua orang yang kelihatannya sangat berbeda. Don yang kaku, disiplin, sistematis, jujur, dan Rosie yang ceria dan spontan. Di buku pertama Don yang seorang profesor di bidang genetik membantu Rosie mencari tahu siapa ayah kandungnya dan cerita berlanjut dari situ. Di buku kedua ini menceritakan perjalanan mereka setelah menikah dan kehamilan Rosie; cerita berputar di masalah yang mereka hadapi karena Rosie khawatir Don nggak akan bisa jadi ayah yang baik nantinya.

Dari judulnya, mungkin orang sekilas mengira cerita ini fokus pada Rosie, tapi nggak. Cerita ini fokus pada tokoh utama laki-laki, Don Tillman.

I have mixed feeling about this story. It was hilariously interesting, as the first book.

Tapi cerita ini (dibandingkan novel pertama) lebih fokus pada pikiran dan perasaan Don, gimana Don di mispersepsi oleh orang lain, dan mengira hal itu udah biasa dan ga mempengaruhi perasaannya sendiri (yang sebenarnya iya). Don cenderung menerima itu sebagai konsekuensi dari kelemahan intrinsik kepribadiannya yang emotionally insensitive. Di beberapa kesempatan Don ketemu sama orang-orang yang salah paham karena sifatnya yang terlalu jujur, dan langsung ke intinya. Di bagian-bagian dari cerita ini dikasih clue kalau Don mungkin menderita Asperger Syndrome, bentuk ringan dari autisme yang menyebabkan orang kurang peka secara emosional dan cenderung menyatakan sesuatu apa adanya tanpa melibatkan emosi. Yang berbeda adalah nggak seperti anak autis, orang Asprger bisa komunikasi biasa dan nggak hidup di dunianya sendiri. Tapi hal ini nggak disebutkan secara gamblang karena Don nggak pernah didiagnosis secara medis untuk itu.

Yang saya dapat dari cerita ini adalah bahwa Don sebenarnya baik-baik saja. Dia bisa menjalani kehidupan biasa seperti orang lainnya dalam caranya sendiri. Di buku kedua ini ada beberapa highlights:

1. Saya sempat berhenti baca karena kasihan sama tokoh Don waktu pertama kali pinjam buku ini dari perpustakaan, karena di bagian awal Don selalu pasrah ketika dianggap ngga bisa jadi “normal” sama orang lain
2. Sama seperti di buku pertama, Don menjadi orang yang selalu berusaha sangat keras memenuhi harapan Rosie, tapi nggak sebaliknya. Saya rasa di buku ini lebih ditekankan kalau hubungan mereka mengalami keretakan bukan sepenuhnya salah Don, tapi juga salah Rosie karena menganggap Don akan selalu jadi orang eksentrik, aneh, seolah-olah Don ngga bisa merasakan perasaan orang lain sama sekali. Setiap kali Don ngga bisa melakukan sesuatu yang menurut Rosie “normal”, Rosie akan menyalahkan kepribadian Don.

Yang saya suka dari The Rosie Effect adalah kedalaman pengembangan karakter masing-masing tokoh, terutama Don. Dan secara nggak langsung menyatakan kalau Don bisa baik-baik aja tanpa Rosie. Adanya Rosie di kehidupan Don mempengaruhi perilaku Don, ada penyesuaian, tapi nggak mengubah cara pandang Don terhadap dunia di sekelilingnya. Keunikan lain dari buku ini adalah penggunaan bahasa Don Tillman, yang rasanya tuh kayak kita baca jurnal ilmiah. Bahasa formal tapi digunakan di percakapan sehari-hari. Buku ini ada di perpustakaan UI dann berbahasa Inggris. Just want to let u know.

I’ll give this book 4 out of 5 star. See u on the next review!

Comments