Tahu Cara Mengatasi Stres, Tapi...

Saya baru aja kontak sama teman yang juga skripsinya ngaret seperti saya (ga lulus tepat waktu tanpa alasan yang benar-benar jelas). Ternyata kita merasakan gejala anxiety yang sama. Like, really. Mirip lah, kalo ngga dibilang sama.Kadang saya merasa ingin bisa pergi dan kabur ke Islandia. (Halo. Islandia? Where was that come from?)

Stres yang dirasain bukan berupa panik menjelang deadline, tapi lebih ke perasaan berat yang menekan. Membekukan kita. Yang bikin perasaan seperti isi perut kita bergulung, “butterfly in my stomach”. Melawan rasa takut? Secara teori, saya udah tahu caranya. Karena saya pernah konseling. Dengan psikolog profesional. Dan juga cerita ke orang-orang dekat, yang ngasih saran untuk lebih ‘easy going’ dalam arti nggak terlalu mempedulikan apa yang kira-kira orang lain pikirkan (dalam hal ini, misalnya, pendapat dosen saya mengenai progres skripsi saya) dan fokus sama pekerjaannya aja.

Tapi. Ada hal lain yang kurang, entah ya. Saya sering kurang sabar dalam eksekusinya (tugas, etc). Benar-benar nggak sabaran, kalau bisa dibilang. Ada faktor lain. Sebagai seorang muslim, saya ngerasa pas saya lagi pede setinggi langit, bisa apa2 sendiri, jarang berdoa, tiba-tiba…
Pede saya hilang entah ke mana. Keyakinan diri saya menguap, kayak apa ya..embun di daun yang terkena panas matahari.

Moral of the story?

You decide.

Comments