Today (maybe) should be one of the happiest day of my college life.
Karena saya berhasil menyelesaikan proses yudisium 2 hari lalu. Which means, I’m gonna be officially graduated from university soon. Well. Tapi rasanya ternyata..biasa aja ..ya?
Soalnya prosesnya panjang, melelahkan, mentally and physically. Jadi rasanya euphoria yang dulu ada sudah entah ke mana, gitu. I’m not really confident about my opportunities also. Tapi. Ada satu hal yang pasti: saya ngga akan melepaskan literary work. Like, ever.
Apakah itu kerja di bidang gizi (sesuai program studi) atau ngga, tapi as a side job, ada blog, ada YouTube, yang perlu saya rawat baik-baik, karena itu akan jadi, seperti kata Om Erik Qualman, digital legacy. Digital Leader, bukunya Equalman, adalah salah satu buku tentang pengembangan diri paling relatable yang pernah saya baca. Kalo kamu mahasiswa UI, syukuri privileged itu dengan baca buku-buku bagus dari perpustakaan. Give society a hand by educating yourselves more. Perpus fakultas ada sih, tapi saya pribadi lebih suka baca buku dari perpustakaan UI. Pusat. Yang gede banget itu lho. Kalo ada satu hal yang saya bener2 bangga jadi mahasiswa UI, itu jelas koleksi buku perpustakaannya. Bukan gedungnya yang mentereng, ya. Itu sih bonus.
Banyak baca aja, itu ga akan menjamin kita jadi orang sukses. Bener lho. Ilmunya kan harus dipraktekin. And that’s a different thing with knowing. Tapi kalo kita jarang baca, ada satu hal yang ngga terasah dengan baik: kemampuan berpikir kritis. Saya pernah dapet pertanyaan gini. Bukan saya yang ditanya sih, tapi saya dengar waktu ada acara di masjid dekat rumah.
“Kenapa isu mudah banget menggerakkan orang?”
Kenapa? Karena orang gampang percaya. Kenapa orang gampang percaya? Karena pemikirannya terlalu sederhana. Kenapa? Karena…
For me it comes down to critical thinking. Ada kalanya kita nerima aja, tapi ada waktunya kita mempertanyakan sesuatu. Bisa memilah milih mana hal yang mesti dikritisi dan yang ga masalah kalo dibiarin aja itu adalah skill yang, harusnya, mereka yang mengecap pendidikan tinggi miliki.
Deuh serius amat. Tapi gitu kan? Seenggaknya kalopun kita masih galau mau kerja apa setelah lulus kuliah, kita ngga nambah beban masyarakat dengan jadi penyebar sampah di internet. U know what I mean. I hope.
Omong-omong, dua buku di atas adalah salah dua dari buku nonfiksi favorit saya dari perpustakaan UI. Show Your Work by Austin Kleon (terjemahan) dan Digital Leader by Erik Qualman (in english). baca buku berbahasa Inggris adalah salah satu hal yang bener2 meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya tanpa mesti les apa-apa. walaupun awalnya susah karena banyak kata yang suka ngga tau artinya, tapi itu worth the effort. Seriously try it!
Dan, saya setuju. Lagi. Nice work as always, on how to be a writer
Comments
Post a Comment