“Pak, saya nggak mau nerjemahin yang ini, ceritanya bikin saya ngantuk.”
Tadi waktu saya lagi cuci piring, ada satu cerita yang terbentuk di kepala, saya “menulis” di dalam pikiran. Tapi, mungkin benar kalau kata-kata yang nggak ditangkap dengan segera bakal cuma menguap seperti helaan napas di hari yang dingin. Jadi inilah yang akhirnya saya tulis.
Dulu saya pengen kuliah Bahasa Inggris. Tujuannya sederhana: supaya kalau saya lulus, saya bisa bekerja sebagai penerjemah, baca buku terbitan baru secara gratis, habis itu dibayar buat menerjemahkannya ke bahasa kita sendiri. Simpel, kan?
Alasan kedua: tulisan fiksi saya payah. Bukan karena nggak bisa, mungkin saya nggak cukup sabar buat menulis sesuai sama plot awal yang udah dibuat, atau istilahnya, premis cerita. Atau endingnya nggak seru. Apapun itu. Jadi, lebih baik kalau saya menulis berdasarkan cerita orang lain aja, kan?
Di dunia yang sempurna, mungkin itu udah terlaksana. Sayangnya, di dunia yang nggak sempurna ini, saya mendarat di jurusan gizi, menghabiskan setengah masa kuliah sambil marah-marah dan berkeluh kesah karena alergi yang nggak terkontrol, dan akhirnya lulus dengan segala drama perskripsian yang ada. Di dunia yang sempurna….
Well, that doesn’t matter, right? Because there’s no perfect world.
Kalau dipikirin lagi, menjadi penerjemah bisa juga nggak semenyenangkan itu. Saya nggak suka harus baca buku yang saya nggak tertarik sama ceritanya. Kalau mau menerjemahkan, kita nggak mungkin bisa milih-milih seperti kalimat pembuka di atas. Kadang kita ngerasa pengen jadi sesuatu buat mengisi kekosongan yang ada, karena itu bikin kita jadi berarti. Kayak menghasilkan buku terjemahan yang bagus. Karena nggak semua translator bisa menerjemahkan dengan bagus. Sama aja dengan penulis, ada yang karyanya kita ingat karena meninggalkan kesan, ada yang setelah kita baca langsung kita lupain ceritanya karena nggak ada efek apa-apa sama diri kita.
Ada buku yang diterjemahkan dengan baik, bikin kita bisa menikmati cerita, ada yang penyederhanaan katanya terlalu banyak sampai feel-nya hilang. Karena saya banyak kerjaan, saya pernah baca dua buku yang sama dari perpustakaan kampus, bedanya satunya dalam Bahasa Inggris, satunya Bahasa Indonesia, dan menemukan beberapa kata yang menurut saya terjemahannya “terjemahan malas”. Soalnya kalimat aslinya dipotong dan diringkas sampai kerasanya jadi datar sehabis diterjemahkan.
Contohnya, saya suka kalimat di buku terjemahan The Age of Miracles karya Karen Thompson Walker:
“Perlambatan terus berlangsung. Hari-hari terentang. Satu demi satu, menit-menit dikucurkan, dan bahkan tetesan, seperti yang mulai kami pahami, pada akhirnya dapat bertambah menjadi banjir.”
Nah, I like those lines a lot. Walaupun saya nggak tahu kalimat aslinya gimana karena saya cuma baca terjemahannya, tapi nuansa sendu yang biasanya ada di karya Ms. Walker kerasa juga di buku terjemahannya. Sejujurnya saya belum pernah baca karyanya yang lain, tapi dari baca review di Goodreads saya dapat gambaran kalau nuansa novelnya memang begitu. Semacam tulisannya Mitch Albom atau Paulo Coelho. Probably. Bedanya saya suka banget tulisan Karen Thompson Walker, sementara dua penulis lainnya nggak. Gimanapun juga, seperti kata Augustus Waters di The Fault in Our Stars, dunia ini bukan pabrik pembuat-keinginan.
Tadi waktu saya lagi cuci piring, ada satu cerita yang terbentuk di kepala, saya “menulis” di dalam pikiran. Tapi, mungkin benar kalau kata-kata yang nggak ditangkap dengan segera bakal cuma menguap seperti helaan napas di hari yang dingin. Jadi inilah yang akhirnya saya tulis.
Dulu saya pengen kuliah Bahasa Inggris. Tujuannya sederhana: supaya kalau saya lulus, saya bisa bekerja sebagai penerjemah, baca buku terbitan baru secara gratis, habis itu dibayar buat menerjemahkannya ke bahasa kita sendiri. Simpel, kan?
Alasan kedua: tulisan fiksi saya payah. Bukan karena nggak bisa, mungkin saya nggak cukup sabar buat menulis sesuai sama plot awal yang udah dibuat, atau istilahnya, premis cerita. Atau endingnya nggak seru. Apapun itu. Jadi, lebih baik kalau saya menulis berdasarkan cerita orang lain aja, kan?
Di dunia yang sempurna, mungkin itu udah terlaksana. Sayangnya, di dunia yang nggak sempurna ini, saya mendarat di jurusan gizi, menghabiskan setengah masa kuliah sambil marah-marah dan berkeluh kesah karena alergi yang nggak terkontrol, dan akhirnya lulus dengan segala drama perskripsian yang ada. Di dunia yang sempurna….
Well, that doesn’t matter, right? Because there’s no perfect world.
Kalau dipikirin lagi, menjadi penerjemah bisa juga nggak semenyenangkan itu. Saya nggak suka harus baca buku yang saya nggak tertarik sama ceritanya. Kalau mau menerjemahkan, kita nggak mungkin bisa milih-milih seperti kalimat pembuka di atas. Kadang kita ngerasa pengen jadi sesuatu buat mengisi kekosongan yang ada, karena itu bikin kita jadi berarti. Kayak menghasilkan buku terjemahan yang bagus. Karena nggak semua translator bisa menerjemahkan dengan bagus. Sama aja dengan penulis, ada yang karyanya kita ingat karena meninggalkan kesan, ada yang setelah kita baca langsung kita lupain ceritanya karena nggak ada efek apa-apa sama diri kita.
Ada buku yang diterjemahkan dengan baik, bikin kita bisa menikmati cerita, ada yang penyederhanaan katanya terlalu banyak sampai feel-nya hilang. Karena saya banyak kerjaan, saya pernah baca dua buku yang sama dari perpustakaan kampus, bedanya satunya dalam Bahasa Inggris, satunya Bahasa Indonesia, dan menemukan beberapa kata yang menurut saya terjemahannya “terjemahan malas”. Soalnya kalimat aslinya dipotong dan diringkas sampai kerasanya jadi datar sehabis diterjemahkan.
Contohnya, saya suka kalimat di buku terjemahan The Age of Miracles karya Karen Thompson Walker:
“Perlambatan terus berlangsung. Hari-hari terentang. Satu demi satu, menit-menit dikucurkan, dan bahkan tetesan, seperti yang mulai kami pahami, pada akhirnya dapat bertambah menjadi banjir.”
Nah, I like those lines a lot. Walaupun saya nggak tahu kalimat aslinya gimana karena saya cuma baca terjemahannya, tapi nuansa sendu yang biasanya ada di karya Ms. Walker kerasa juga di buku terjemahannya. Sejujurnya saya belum pernah baca karyanya yang lain, tapi dari baca review di Goodreads saya dapat gambaran kalau nuansa novelnya memang begitu. Semacam tulisannya Mitch Albom atau Paulo Coelho. Probably. Bedanya saya suka banget tulisan Karen Thompson Walker, sementara dua penulis lainnya nggak. Gimanapun juga, seperti kata Augustus Waters di The Fault in Our Stars, dunia ini bukan pabrik pembuat-keinginan.

Comments
Post a Comment