I’ve been binge watching k-dramas. Again.
Started with The Fiery Priest, then Love in Sadness, dan pas episode nya udah habis karena masih on going, saya nonton Sky Castle. Ternyata ceritanya bagus. Nggak kayak typical Korean rich families yang selama ini saya tonton. Jadi paham kenapa Aida Azlin bahkan ngomongin itu di video jurnalnya. So far, character buildingnya bagus, konflik berkembang dengan banyak emosi yang terlibat, dan kita tahu latar belakang masing-masing karakter, semua punya background story yang kuat. Bahkan masih kepikiran ceritanya pas mau tidur malam, dan nyangkut di sisa-sisa mimpi pas bangun.
Ada adegan yang agak nyentil buat saya, yaitu pas mereka, kelompok tetangga yang tinggal di perumahan elit Sky Castle, tergabung di satu klub buku yang diketuai salah satu warga. Buku yang dibaca adalah buku-buku berat pemikiran yang serius-serius, dkk. Padahal bukan Cuma orangtua, tapi anak-anaknya juga baca buku yang sama. Dan ibunya Woo Joo bilang,
“Mereka baca buku-buku ini? Bahkan anak-anak? Apa nggak terlalu sulit?”
Ini cuma demi list bacaan yang bagus buat portfolio masuk universitas, kata Woo Joo.
What's the point of reading if you don't understand it? Hate it? What will you gonna learn?
Wow. I thought that’s so bad. Cause I love reading, and I'd never forced to. Simply because there's many books at home. My little brother read history books not because our parents or teachers told him to, but cause he likes it. Masih ingat satu waktu saya pernah lihat dia baca buku berjudul Sejarah Besar Amerika. Keinget terus karena judulnya yang keliatan boring banget buat saya. Kalo nggak salah itu salah satu buku bacaan wajib kakak saya yang kuliah sastra di kampus. Orangtua saya nggak pernah ngebatasin apa yang harus kita baca, kecuali mungkin apa yang nggak boleh dibaca, sebagai anak-anak, jadi yaudah. Ngalir aja semuanya.
Waktu saya ke bazaar buku murah di Perpus UI, saya liat ada buku berjudul The History of Civil Rights Movement, keliatannya menarik, tapi saya udah telanjur beli buku nonfiksi lain and my budget was limited. Udah lama rasanya nggak baca sesuatu, selain novel, murni buat kesenangan baca aja. Just some nice added knowledge to understand how the world works.
Random facts! Tahu nggak sih kalo tes IQ awalnya dirancang buat membantu anak-anak berkebutuhan khusus belajar lebih baik? Jadi bukan ngetes seberapa pintar kita buat layak masuk ke kelas IPA atau IPS atau sejenisnya, tapi buat nyari cara belajar yang paling pas buat anak dengan kecerdasan terbatas. Mana yang bisa ditingkatin. Kayaknya saya baca di buku perpus yang judulnya ada kata jeniusnya. Sayang aja kalo, seperti cerita di Sky Castle, kalo kita belajar, baca, semata demi nilai-nilai bagus di atas kertas. Resume. Kalau gitu begitu lulus sekolah orang bakal berhenti belajar, dan itu sayang sekali. Kita cuma hidup sekali.

nice post, thanks for sharing, blogwalking here..
ReplyDelete