Balada Kotak Suara Kardus


Oke.
Teori konspirasi. Kadang kita suka sekali dengan yang namanya teori konspirasi.
Salah satunya orang yang saya temui setiap hari.
Umi (ibu).

Seriously, setiap pagi kerjaan umi saya adalah ngeliat share postingan berbau politik di grup alumni organisasi jaman sekolahnya. Apalagi menjelang pemilu kemarin. Semakin sering saya lihat kening beliau berkerut sambil ngeliat layar HP.

Tapi, tiba-tiba saya jadi bisa lebih memahami kekhawatiran umi setelah saya jadi panitia pemungutan suara tanggal 17 April 2019 kemarin. FYI, itu kali pertama saya berpartisipasi jadi panitia. Sebelumnya kerjaan saya kalo hari pemilu ya cuma dateng ke TPS, nyoblos, pulang. Kelar. Menikmati sisa hari libur dengan santai.

Dan saya mesti jadi panitia pas untuk pertama kalinya pemilu serentak diadakan. Beserta dengan “kebijakan” kotak suara yang terbuat dari kardus. Pake tanda “..” karena menurut saya itu nggak bijak sama sekali.

KPU, oh KPU, WHY??

Dan kemarin juga terjadi kecurangan di TPS saya. Data pemilih yang menggunakan hak pilih ada 129, tapi jumlah surat suara pilpres di kotak suara yang tercoblos ada 130. Panitia galau. Saksi galau. Akhirnya memutuskan surat suara presiden akan dihitung belakangan. Kemudian salah satu saksi bilang dia dapet info dari TPS lain kalau mereka menemukan hal yang sama, dan ternyata ada satu surat suara yang tidak ada tanda tangan ketua KPSSnya. Jadi setiap surat suara ada keterangan lokasi pemilihan dan TTD ketua KPPS di TPS, untuk bisa dianggap sah. Malam itu akhirnya kami memeriksa dulu kelengkapan keterangan di surat suara, dan ternyata benar. Ada satu yang nggak ada TTD ketua KPPS.
Dan itu tercoblos.

Sayangnya saya nggak ngefoto surat suara itu. Saya pikir nggak ada gunanya difoto juga, nanti kalo saya bilang-bilang ke orang-orang, paling dibilang hoax lagi. Pencemaran nama baik. Dsb. Dst. Karena yang tersisa dari itu adalah si surat suara tercoblos, dan tanda silang yang dibuat panitia di bagian keterangan supaya surat suara tersebut nggak bisa digunakan lagi. Like, people could argue that we fake it.

Tadinya saya mau keep this to myself, but. Just so you know, surat suara illegal itu (illegal karena si pemilih bawa sendiri itu surat suara, karena saya dan rekan yang menuliskan keterangan di surat suara dan setiap ngasih 5 jenis surat suara ke calon pemilih kita selalu menempatkan surat suara presiden di paling depan, jadi bakal keliatan kalo nggak ada tulisan dan TTD ketua KPPS nya) tercoblos di paslon nomor urut 01.

Terkejut? Kaget?
‘Oh, dia lagi,’ itu yang ada di pikiran saya.
Bayangkan kalo itu dilakukan di tiap TPS dan nggak ketahuan. Suara yang masuk jadi berapa?

Dengan sistem pemilu serentak yang bikin panitia extremely exhausted, kotak suara kardus yang nggak dikasih gembok dari KPU (ada sih tapi cuma 1 buat kotak suara presiden, gembok kecil yang gampang banget dirusak), I think it says a lot about our government system now. Jadi keinget waktu itu saya pernah nonton video YouTube Panji Pragiwaksono yang bilang kalo pemilih yang memilih 02 sebenarnya bukan murni percaya sama 02, tapi karena kecewa sama pemerintahan calon presiden dari 01.

Hm. Terus kenapa?

Nggak ada salahnya juga. Kan petahana udah terbukti pemerintahannya selama ini. Ada yang melihat banyak positifnya, ada yang melihat banyak negatifnya. Terus kenapa kalo alasannya memilih lawan politik petahana karena kecewa sama pemerintahan petahana?

Sebenarnya ini bukan peristiwa yang gimana-gimana, sih, cuma (baru) 1 surat suara. Tapi ngerasain pengalaman langsung 17 April kemarin, yang selama ini berita-berita kecurangan pemilu cuma tahu dari cerita orang, dan berita di media, jadi berasa bedanya.

Lagi, teori konspirasi.

Nggak butuh novel dystopia sejenis Hunger Games atau Divergent.

Situasi politik Indonesia, is the real dystopian story.

Comments