Nggak Butuh Feedback

in frame: a novel by Julie Ann Peters

Beberapa hari lalu, ada orang komen di YouTube channel saya.
Ngomong soal thumbnail, 'Saran, dibikin yang bagus. Bukannya yang ini nggak bagus sih, tapi kalo bisa diperbaiki lagi.' Begitulah kira-kira komennya.
1. saya nggak minta saran terkait thumbnail
2. Tau ngga thumbnail yang saya pakai itu apa? foto wisuda saya.

Jadi menurut netijen budiman foto saya lagi pake toga wisuda bareng sama keluarga itu nggak bagus buat thumbnail video. Oke. I don't care. Terkadang kalo komennya masih nyambung sama konten yang dibuat masih mending. Tapi kalo ada komen sejenis, "Kak gendutan ya?" (bukan saya sih tapi pernah lihat di kolom komentar orang lain) rasanya jadi sebal kan.

Walaupun orang-orang di jagat internet mungkin nggak ngeh, tapi setiap video, setiap konten itu melalui proses editing. Bahkan pas nulis blog aja saya pernah beberapa kali mengedit ulang draft karena rasanya kurang tepat ngebahasnya. Dan saya juga dapet masukan dari teman dan keluarga. Jadi, for the last freaking time, thanks, but no, I don't want a feedback. Especially silly and unrelated feedbacks.

Comments