Hari ini keinget sama jaman kuliah lagi, gara-gara kemarin ke kampus dan ketemu sama dede maba yang masih pada pake baju hitam putih. Yes, I said that my laptop broke at the beginning of the week, but. Ini lagi bener sendiri (lagi). Saya juga pake baju hitam putih (bawa-bawa jakun, lagi) karena habis ikut sumpah profesi gizi yang dresscodenya hitam-putih dan jakun. pas saya dan teman2 lagi makan di kantin, ada satu orang maba berseragam baju putih dan rok hitam duduk di samping saya dan bilang, "Boleh gabung, nggak?" dan kita semua masang tampang polos bahkan teman saya sempat nanya2 dari fakultas mana segala.
Beberapa lama, dede maba ini bilang: "Kakak..kakak tingkat, ya?"
"Kok tahu? wah ketahuan"
" Iya soalnya pake bajunya hitam putih tapi gayanya beda,"
Terus kita semua ketawa. Gayanya beda? What's that supposed to mean? A compliment?
Obrolan singkat sama maba UI (anak FISIP, katanya. baiklah rupanya anak FKM sama FISIP sama2 suka makan di kantin MIPA) ngebawa ingatan saya ke beberapa tahun lalu pas saya masih maba Gizi FKM UI. Saya dan teman saya lagi di bagian bawah balairung, duduk menghadap ke danau. Ini beneran kalo ada musik jadi acara variety show 'maba UI terharu bisa masuk UI'karena yang kita omongin adalah betapa luarbiasa rasanya kita bisa jadi mahasiswa UI. Salah satu memori yang selalu bikin saya senyum tiap keingat.
Tapi. Ternyata.
Perjalanannya kuliah saya nggak sesuai harapan.
Sama sekali. At least not as smooth as imagined.
Saya masuk UI setelah gap year, dan saya punya mindset konyol ini; karena saya berusaha begitu keras untuk akhirnya diterima jadi mahasiswa UI maka pas kuliah saya bakal jadi mahasiswa paling rajin dan paling berprestasi. Kenyatannya? tentu saja. Tidak. Banyak teman yang lebih pintar, lebih rajin, lebih glowing mukanya, dan lebih2 lainnya dari saya. Mereka semua adalah 'beneran maba'. Udah gitu sepanjang tahun ke-2 dan ke-3 kuliah saya sakit eksim parah yang bikin kegiatan sehari-hari terganggu. Boro-boro mikirin nilai kuliah, tugas-tugas makalah dkk bisa selesai aja udah bagus.
Ya begitu manteman. Jadi saya bukan mau julidin program studi gizi ya XD Cuma mikir seandainya ekspektasi saya pas maba nggak terlalu tinggi, ketika saya nemuin hambatan dan tantangan pas menjalani kuliah, saya nggak bakal segitu kecewanya dan bisa lebih cepat bangkit. Karena UI dijalankan oleh orang; dosen, staf dosen, orang-orang di dekanat, rektorat. Sistem kuliah di UI, walaupun dalam sebagian hal lebih baik dari yang lain, tetap ada kekurangannya. Just saying. Termasuk metode kuliah tutor nulis tugas pake tulisan tangan di Gizi UI (yes, ada, mahasiswa baru Gizi UI, selamat ya). Maksudnya mungkin supaya mahasiswa lebih berpikir mendalam sebelum ngerjain tugas, nggak asal copas dari internet atau buku, tapi karena seringkali dikasih tugas hari ini besoknya udah dikumpulin, ujungnya mahasiswa nulis buru-buru dan nggak pake banyak mikir juga. Well, I still have a favorite class, though.
Mungkin yang dibilang gayanya beda sama adik tingkat itu adalah kita lebih keliatan santai dan pede. Yah, melalui naik turun di kampus, tangga, lift, tanjakan, bisa dibilang saya jadi orang yang nggak seminderan pas awal kuliah. And hopefully we all will continue to have a growing mindset, right?
Beberapa lama, dede maba ini bilang: "Kakak..kakak tingkat, ya?"
"Kok tahu? wah ketahuan"
" Iya soalnya pake bajunya hitam putih tapi gayanya beda,"
Terus kita semua ketawa. Gayanya beda? What's that supposed to mean? A compliment?
Obrolan singkat sama maba UI (anak FISIP, katanya. baiklah rupanya anak FKM sama FISIP sama2 suka makan di kantin MIPA) ngebawa ingatan saya ke beberapa tahun lalu pas saya masih maba Gizi FKM UI. Saya dan teman saya lagi di bagian bawah balairung, duduk menghadap ke danau. Ini beneran kalo ada musik jadi acara variety show 'maba UI terharu bisa masuk UI'karena yang kita omongin adalah betapa luarbiasa rasanya kita bisa jadi mahasiswa UI. Salah satu memori yang selalu bikin saya senyum tiap keingat.
Tapi. Ternyata.
Perjalanannya kuliah saya nggak sesuai harapan.
Sama sekali. At least not as smooth as imagined.
Saya masuk UI setelah gap year, dan saya punya mindset konyol ini; karena saya berusaha begitu keras untuk akhirnya diterima jadi mahasiswa UI maka pas kuliah saya bakal jadi mahasiswa paling rajin dan paling berprestasi. Kenyatannya? tentu saja. Tidak. Banyak teman yang lebih pintar, lebih rajin, lebih glowing mukanya, dan lebih2 lainnya dari saya. Mereka semua adalah 'beneran maba'. Udah gitu sepanjang tahun ke-2 dan ke-3 kuliah saya sakit eksim parah yang bikin kegiatan sehari-hari terganggu. Boro-boro mikirin nilai kuliah, tugas-tugas makalah dkk bisa selesai aja udah bagus.
Ya begitu manteman. Jadi saya bukan mau julidin program studi gizi ya XD Cuma mikir seandainya ekspektasi saya pas maba nggak terlalu tinggi, ketika saya nemuin hambatan dan tantangan pas menjalani kuliah, saya nggak bakal segitu kecewanya dan bisa lebih cepat bangkit. Karena UI dijalankan oleh orang; dosen, staf dosen, orang-orang di dekanat, rektorat. Sistem kuliah di UI, walaupun dalam sebagian hal lebih baik dari yang lain, tetap ada kekurangannya. Just saying. Termasuk metode kuliah tutor nulis tugas pake tulisan tangan di Gizi UI (yes, ada, mahasiswa baru Gizi UI, selamat ya). Maksudnya mungkin supaya mahasiswa lebih berpikir mendalam sebelum ngerjain tugas, nggak asal copas dari internet atau buku, tapi karena seringkali dikasih tugas hari ini besoknya udah dikumpulin, ujungnya mahasiswa nulis buru-buru dan nggak pake banyak mikir juga. Well, I still have a favorite class, though.
Mungkin yang dibilang gayanya beda sama adik tingkat itu adalah kita lebih keliatan santai dan pede. Yah, melalui naik turun di kampus, tangga, lift, tanjakan, bisa dibilang saya jadi orang yang nggak seminderan pas awal kuliah. And hopefully we all will continue to have a growing mindset, right?
kk lulus jalur ap kk d gizi ui? trs angkatan thn brp kk
ReplyDelete