"Ini perlu dibawa, nggak, ya?"
Akhir-akhir saya punya aturan satu tas. Sebenarnya ini 'nyuri' ide dari salah satu buku seri Chicken Soup for the Soul, judulnya The Joy of Less (Makin Sedikit Makin Bahagia). Aturannya sederhana. Apapun yang mau saya bawa, itu semua harus muat di dalam satu tas. Pergi sehari-hari, ya, kalo mau nginep seminggu mah beda lagi, hehe. Dulu, saya nggak bakal bisa cuma bawa satu tas ke kampus. Saya pakai ransel, ditambah bawa satu buah goodie bag atau tas kain buat bawa-bawa buku, kotak makan, botol minum.
Sekarang?
Laptop, buku catatan, buku bacaan, botol minum, charger laptop dan HP, kadang kotak makan; semua masuk ke satu tas jinjing ukuran sedang. Tas cewek, istilah orang-orang. Menurut cerita di buku, orang tersebut ngerasa hidupnya jadi lebih ringan hanya dengan mulai memakai aturan satu tas. Ternyata saya juga merasa begitu. Setiapkali mau pergi, saya lihat barang-barang saya, dan nanyain hal-hal ini:
Apa perlu saya perlu bawa buku bacaan? bakal sempat dibaca nggak? atau mungkin bawa yang itu aja, lebih tipis.
Dompet nggak muat karena diameternya besar? ganti ke dompet lain yang lebih tipis.
Bawa tiga kartu aja; KTP, kartu ATM, dan e-money.
Ganti botol minum ke yang ukurannya setengahnya, toh nanti di kantor bisa isi ulang dari galon.
Saya lagi capek beberapa hari ini, fisik dan emosional. Pas saya ngeliat tas, saya tersadar, mungkin sama seperti saya memilah-milah barang mana yang mau masuk ke dalam tas, saya juga perlu memilah perasaan, juga prioritas saya supaya ruang pikiran dan hati saya nggak sempit. Energi nggak habis buat hal yang sebenarnya nggak esensial. Keinget kata Sean Covey, pilih medan pertempuranmu. Pastikan itu layak. Konsep yang simpel? Iya. Gampang dilakuin? tentu saja..tidak. Tapi ketika kita memulai, rasanya lama-lama jadi lebih ringan buat dilanjutkan.
Terimakasih juga buat seseorang yang bersedia dengerin curhat saya hari ini, face to face. Perhaps it came out of sense of duty as a leader, but still. I felt really thankful.

Comments
Post a Comment