Saya nulis ini dari Kopi.Margonda, salah satu coffee shop yang bertebaran di Jalan Margonda, pusat jalan-jalan weekend di kota Depok. Saya tahu tempat ini karena ternyata saya kenal sama saudara ownernya, dan sejak itu sering kesini. Kopinya lumayan, tempatnya enak. Tapi beberapa waktu ini saya kecewa, karena ada kebijakan baru (menurut mbaknya sih gitu), beberapa menu ketika minum kopi di kafe tetap dikasih gelas plastik yang biasanya buat takeaway saja. Padahal saya mulai menghindari coffee shop yang ngga menyediakan gelas biasa untuk dine in, karena saya berusaha hidup lebih ramah lingkungan. Sebelumnya saya senang sekali karena di Kopi.Margonda nggak pakai gelas plastik full untuk semua menu. Saya secara sadar berusaha mengurangi pemakaian plastik terutama setelah mulai bantuin ibu memilah sampah di rumah, terlebih ada bank sampah di rumah.
Di sini ada beberapa menu kopi yang biasanya tetap dikasih gelas kaca, atau kalo minumannya panas. Saya menyayangkan aja aturan baru ini. Terus kadang kasirnya nyuruh kita nunggu barista selesai bikin kopi dan dibawa sendiri, nggak dianterin ke meja. Tadi pas saya beli, saya sengaja pilih menu kopi yang tetap diserve di gelas kaca kalo dine in. Pengalaman beberapa kali disuruh nunggu, akhirnya tanpa diminta pun saya nunggu depan meja barista. Kemudian saya dikasih kopi di kemasan gelas plastik. Mungkin mas baristanya kira minuman saya mau dibawa pergi karena saya nunggu di bawah (mostly meja ada di lantai 2). Yah, dapat gelas plastik lagi, deh, pikir saya.
Kenapa nggak seperti sebelumnya aja?
Kenapa mesti ada yang di gelas plastik, ada yang gelas biasa pas minum di kafe?
Saya jadi bertanya-tanya, apa alasannya coffee shop serve in minuman di gelas plastik kalopun minumnya di tempat? Karena selain di Kopi Titik yang masih hybrid (?) banyak yang full pake gelas plastik, termasuk yang harganya premium seperti Starbucks Coffee. Saya lebih sebal lagi karena menurut saya dengan harga kopi segitu harusnya Starbucks bisa beli gelas dan membayar karyawannya lebih untuk nyuci gelas. Saya yakin pemilik bisnis kafe-kafe ini rata-rata orang berpendidikan yang harusnya bisa mengedukasi diri tentang isu lingkungan.
Hm, mungkin pebisnis coffee shop harus ngerasain kerja relawan bank sampah dulu biar lebih sadar lingkungan kali ya? Melihat tumpukan sampah gelas dan botol plastik sekali pakai yang entah butuh berapa tahun untuk terurai di tanah, dan bahkan kalopun terurai berpotensi mencemari tanah dan air di mana sumber makanan kita ditumbuhkan?
Saya salut sekali ada kafe seperti Kon Kopi a yang berani mengambil langkah beda. Ah, kalo ngomongin isu peduli bumi, peduli lingkungan banyak sekali yang bisa dibahas, mulai dari yang jelas terlihat seperti kemasan gelas plastik sekali pakai sampai kosmetik.
Di sini ada beberapa menu kopi yang biasanya tetap dikasih gelas kaca, atau kalo minumannya panas. Saya menyayangkan aja aturan baru ini. Terus kadang kasirnya nyuruh kita nunggu barista selesai bikin kopi dan dibawa sendiri, nggak dianterin ke meja. Tadi pas saya beli, saya sengaja pilih menu kopi yang tetap diserve di gelas kaca kalo dine in. Pengalaman beberapa kali disuruh nunggu, akhirnya tanpa diminta pun saya nunggu depan meja barista. Kemudian saya dikasih kopi di kemasan gelas plastik. Mungkin mas baristanya kira minuman saya mau dibawa pergi karena saya nunggu di bawah (mostly meja ada di lantai 2). Yah, dapat gelas plastik lagi, deh, pikir saya.
Kenapa nggak seperti sebelumnya aja?
Kenapa mesti ada yang di gelas plastik, ada yang gelas biasa pas minum di kafe?
Saya jadi bertanya-tanya, apa alasannya coffee shop serve in minuman di gelas plastik kalopun minumnya di tempat? Karena selain di Kopi Titik yang masih hybrid (?) banyak yang full pake gelas plastik, termasuk yang harganya premium seperti Starbucks Coffee. Saya lebih sebal lagi karena menurut saya dengan harga kopi segitu harusnya Starbucks bisa beli gelas dan membayar karyawannya lebih untuk nyuci gelas. Saya yakin pemilik bisnis kafe-kafe ini rata-rata orang berpendidikan yang harusnya bisa mengedukasi diri tentang isu lingkungan.
Hm, mungkin pebisnis coffee shop harus ngerasain kerja relawan bank sampah dulu biar lebih sadar lingkungan kali ya? Melihat tumpukan sampah gelas dan botol plastik sekali pakai yang entah butuh berapa tahun untuk terurai di tanah, dan bahkan kalopun terurai berpotensi mencemari tanah dan air di mana sumber makanan kita ditumbuhkan?
Saya salut sekali ada kafe seperti Kon Kopi a yang berani mengambil langkah beda. Ah, kalo ngomongin isu peduli bumi, peduli lingkungan banyak sekali yang bisa dibahas, mulai dari yang jelas terlihat seperti kemasan gelas plastik sekali pakai sampai kosmetik.

Comments
Post a Comment