Akhir-akhir ini saya banyak mikir soal online presence. Karena berita kematian mendiang Sulli, idol Korea Selatan beberapa waktu lalu karena bunuh diri yang disinyalir pencetusnya adalah cyberbullying. ada salah satu idol lain yang dibilang nggak prihatin Cuma karena dia nggak posting ucapan dukacita di medsos, dan ternyata aktris tersebut ikut membantu prosesi pemakaman atau memorial service-nya Sulli sehingga nggak update medsos. Apakah karena orang nggak menyatakan mereka berduka di internet lalu mereka nggak peduli? Sayangnya, akhir-akhir ini rasanya begitu.
Sama halnya dengan ucapan selamat ulangtahun, misalnya. Rasanya nggak enak kalo nggak diupdate di Instagram story. Saya sendiri suka lupa sama ulang tahun orang-orang, hehe. Tapi kalopun ingat jarang juga mention-mention di medsos. Mungkin orang heran kalo saya bilang saya nggak suka ada di spotlight. Loh tapi kakak kan YouTuber?
Memangnya kenapa?
Kan kalo ngeyutup yang dihadapi kamera, bukan orang langsung. Jujur saya nggak enak kalo ada adik tingkat waktu masih kuliah tiba2 nyamperin dan bilang, “Kak, aku nonton kakak di YouTube loh!” rasanya pengen punya kekuatan invisible dadakan. Saya pikir waktu pertama bikin video, ah paling yang nonton temen-temen dekat sama keluarga doang. Tapi ternyata cerita gap year saya diklik oleh lebih dari seribu orang, sampai ada yang curhat panjang lebar.
Wah. Baru ngerasain begini ya..kalo kita menampilkan diri di media online. Mungkin itu sebabnya muncul fenomena influencer ‘kurang tahu diri’ karena memang hidup kita rasanya bisa berubah dengan cepat, walaupun seberapa lama keterkenalan itu bertahan urusannya beda lagi.
Jadi ingat kata-kata om Austin Kleon di Show Your Work! Tentang prinsip berkarya:
“Temukan satu scenius, perhatikan apa yang orang lain bagi, catatlah apa yang tidak mereka bagi. Cermati kekosongan yang bisa kamu isi dengan usaha sendiri, walaupun sulit memulainya.”
Eric Weiner di The Geography of Genius pernah bilang kalau orang jenius itu bukan muncul begitu saja, tapi ada lingkungan yang mendukungnya. Itulah scenius. Interpretasi simpelnya adalah, kalo mau berkarya, kelilingi diri dengan teman-teman yang produktif berkarya juga. Membuat karya orisinil (or at least kerasa begitu)? Cari tahu apa yang kamu suka, biarpun itu udah banyak yang bikin, adakah hal beda yang bisa kamu isi?

Comments
Post a Comment