Perempuan dan Kemandirian

Waktu itu saya nonton video Sunny Dahye, seorang beauty vlogger tentang kemandirian di segmen Sunshine Radio-nya. Dia ngebahas hal itu dengan niat baik, saya yakin. Saya nggak subs sih, tapi kadang suka nonton doi karena cara ngomongnya asik. Saya tahu mbak influencer ini lagi pengen bikin buku, dan sejujurnya saya kepengen beli. Saya nggak pernah ingin tahu kisah hidup seorang medsos influencer sebelumnya, tapi saya cukup tertarik sama cerita Sunny Dahye karena latar belakangnya pernah lama tinggal di Indonesia sampe kuliah di UGM sebelum balik ke negara asalnya Korea Selatan.

Anyway. Inti bahasannya yang saya tangkap adalah kita jangan mengandalkan orang lain, jangan cari cowok mapan buat jadi pasangan, karena perempuan sekarang harus mandiri. Bagian itu ada benarnya. Cuma terus arahnya jadi ke "kalo kita bisa beli barang-barang branded, misalnya, apa yang kita pengen dengan uang sendiri, itu bakal lebih puas." That was putting me off, cause it the end it sounded so materialistic, I don't know.

Kalo ngomongin soal perempuan dan kemandirian kayaknya nggak ada habisnya ya, kayak ngomongin make up. Ada aja yang baru. Menurut saya, ada banyak perspektif yang bisa dipakai, tapi kemandirian itu bukan melulu soal kemandirian finansial. Term yang banyak dibahas anak muda sekarang ini menitikberatkan mandiri dalam arti finansial, termasuk si mbak Sunny.

Saya juga habis rekaman podcast bareng teman-teman, yang berlangsung like ages ago, tapi akhirnya proses editing awal selesai walaupun belum dipost karena masih galau bikin per-part atau nggak. Galau nama podcastnya apa. Belum punya akun di Anchor. Begitulah. Yang jelas disitu kita bahas soal pilihan karir sebagai lulusan FKM, juga ngomongin gimana pendapat kita mengenai orang-orang yang kuliah tapi akhirnya jadi ibu rumah tangga.

Jadi ingat saya pernah cerita sama orang yang baru saya kenal di satu acara kalo saya terlambat karena lama nunggu sinyal kereta masuk ke stasiun. Terus kenalan saya itu ngangguk-ngangguk tapi ekspresinya seperti nggak ngerti. Saya terus mikir, ini anak apa nggak pernah naik KRL ya? Atau kalo pikiran versi yang kuliah prodi gizi, jangan-jangan nggak bisa bedain jahe ama lengkuas, nih?

Satu hal itu aja bikin saya berprasangka. Padahal aslinya nggak tau banyak soal orang itu. Sama seperti definisi perempuan mandiri bisa menghasilkan uang sendiri, itu terlalu sempit. Bukan apa-apa, saya ngerasa miris aja karena di sekitar saya banyak ibu-ibu hebat yang berjuang merawat anak-anaknya setiap hari, belum kalo ada yang sakit, dkk dan mungkin masih dipandang “ah, cuma di rumah doang”. Padahal kita nggak tahu cerita lengkapnya mereka.

Apalagi saya punya keponakan berkebutuhan khusus, yang sangat sensitif sama perubahan suasana dan juga orang. Jadi memang ibunya harus lebih sering di rumah. Kakak saya pun bukan mengkompromikan kondisi rumah biar bisa kerja (profesinya dokter gigi), tapi jadwal prakteknya yang menyesuaikan sama kondisi di rumah. Seorang ibu yang bisa ngurus anak tanpa ada pembantu, menangani situasi darurat di rumah tanpa banyak ribut-ribut, juga adalah perempuan mandiri.
Just my random thoughts.Dan ingat juga, kalau cara hidup kita nggak ngerugiin orang, kenapa harus malu?

Comments