Awal tahun 2020 diwarnai banjir Jabodetabek, yang kembali lagi akhir Februari. Orang-orang berusaha keliatan santuy dengan bikin meme dan video TikTok di genangan air banjir. I hate that. Dulu saya nggak suka nonton Atta Halilintar, tapi sekarang mulai sering nonton videonya yang bareng Aurel Hermansyah. Ngebucin bareng anak-anak ABG di kolom komentar. Maksudnya bacain komentar bucin. I hate that I secretly enjoyed it.
Dan juga ada banyak kondangan. Buat saya yang nggak terlalu banyak lingkaran pertemanan, Februari menjadi bulan yang kerasa kayak bulan penderitaan jomblo: ada aja berita temen nikah, lamaran, lagi isi. Atau baru punya anak. Bukannya saya menderita. But still. Mungkin berhubungan juga sama ilustrasi di komik Sarah Andersen: “Ah, besok aku harus bangun pagi. Aku harus segera tidur. Atau.. aku bisa begadang tanpa alasan.”
Kurang tidur bikin orang jadi emosian. Mageran.
Akhir-akhir ini juga lagi banyak bertanya soal makna pekerjaan saya: tantangan orang yang berkecimpung di lembaga sosial, filantropi, kemanusiaan, whatever u name it. Ngelihat berita, mikir: ini kerjaan saya kayak gali lubang tutup lubang, ya? Menutup lubang yang digali orang lain. Banjir, misalnya, kombinasi kelalaian warga dalam buang sampah, sistem drainase yang kurang bagus, penurunan tanah karena banyaknya bangunan tinggi. Lembaga sosial pun menggalang dana, berlomba-lomba ngirim bantuan. Tapi gedung apartemen dan mall baru terus berjalan pembangunannya. Dkk. Kapan selesainya kalo begini?
Sebagian pertanyaan memang tidak bisa kita dapatkan jawaban yang memuaskan hati. Seenggaknya kita melakukan sesuatu dan nggak diam aja. I hope. Keinget kata Baek Se Hee di I want to die but I want to eat Tteokpokki:
“Ada saat di mana aku ingin mencengkeram kerah baju orang yang menyuruhku bersemangat di saat aku merasa sangat kesulitan.”
Dan juga:
“Tidak apa-apa jika tidak bersemangat. Mungkin saja hari ini aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan baik. Itu adalah pengalaman.”
Yah. Namanya juga hidup. Bahkan Puty Puar, ilustrator favorit saya (banget), punya kegalauan tersendiri soal kerjaannya.
Dan juga ada banyak kondangan. Buat saya yang nggak terlalu banyak lingkaran pertemanan, Februari menjadi bulan yang kerasa kayak bulan penderitaan jomblo: ada aja berita temen nikah, lamaran, lagi isi. Atau baru punya anak. Bukannya saya menderita. But still. Mungkin berhubungan juga sama ilustrasi di komik Sarah Andersen: “Ah, besok aku harus bangun pagi. Aku harus segera tidur. Atau.. aku bisa begadang tanpa alasan.”
Kurang tidur bikin orang jadi emosian. Mageran.
Akhir-akhir ini juga lagi banyak bertanya soal makna pekerjaan saya: tantangan orang yang berkecimpung di lembaga sosial, filantropi, kemanusiaan, whatever u name it. Ngelihat berita, mikir: ini kerjaan saya kayak gali lubang tutup lubang, ya? Menutup lubang yang digali orang lain. Banjir, misalnya, kombinasi kelalaian warga dalam buang sampah, sistem drainase yang kurang bagus, penurunan tanah karena banyaknya bangunan tinggi. Lembaga sosial pun menggalang dana, berlomba-lomba ngirim bantuan. Tapi gedung apartemen dan mall baru terus berjalan pembangunannya. Dkk. Kapan selesainya kalo begini?
Sebagian pertanyaan memang tidak bisa kita dapatkan jawaban yang memuaskan hati. Seenggaknya kita melakukan sesuatu dan nggak diam aja. I hope. Keinget kata Baek Se Hee di I want to die but I want to eat Tteokpokki:
“Ada saat di mana aku ingin mencengkeram kerah baju orang yang menyuruhku bersemangat di saat aku merasa sangat kesulitan.”
Dan juga:
“Tidak apa-apa jika tidak bersemangat. Mungkin saja hari ini aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan baik. Itu adalah pengalaman.”
Yah. Namanya juga hidup. Bahkan Puty Puar, ilustrator favorit saya (banget), punya kegalauan tersendiri soal kerjaannya.

Comments
Post a Comment