Apa yang dikangenin dari masa sebelum pandemi? Salah satunya puisi.
Aku kangen baca buku puisi, terutama dari penyair senior. Suka banget Hujan Bulan Juni, puisi-puisi di dalamnya berbicara padaku. Sendirian selalu bikin aku kontemplatif dan kepingin sesuatu yang romantis. Meminjam selalu jadi pilihan selama ini, tapi sekarang berharap aku punya buku puisi di rumah. Mungkin itu sebabnya aku mulai nulis puisi-puisi sendiri, ngga peduli bagus nggaknya. Sebagian masuk medsos, sebagian lagi ngga.
Kerja dari rumah enak nggak?
Ya pasti ada enak ada nggak enaknya. Kadang lupa kalo masih hari kerja dan baru mandi pagi jam sepuluh. Bakal ada bedanya nggak ya? Apa rasanya kembali ngantor setelah sekian lama nggak kemana-mana? Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: Kapan?
Ketika dua pekan bertambah jadi tiga, kemudian empat. Harus seketat apa jaga jarak? Gimana kita kembali ke kehidupan normal?
Walaupun tetangga masih pada ngobrol-ngobrol depan rumah; anak-anak main layangan, layangannya masuk pagar tembok belakang rumah; dst dkk. Tapi aku berada di posisi pergi ke minimarket depan gang aja tegang. Ngeliat orang antri terlalu dekat jaraknya, tegang.
Ini kenapa sih?
But guys, it’s a pandemic. Pandemi adalah strata tertinggi dalam keparahan persebaran penyakit menular, atau ilmunya epidemiologi. Pandemi ini bikin aku jadi baca-baca jurnal kesehatan masyarakat yang udah jarang dipegang sejak kerja. Jurnal gizi. Artikel WHO. Artikel CDC. Bahkan jurnal ilmiah psikologi, manapun yang bisa diakses secara gratis.
Kalo mau bahasan kesehatannya, bisa liat di sini. Tenang aja, kita nggak perlu jadi lebih produktif.
Baca jurnal ilmiah rasanya hampir seperti kuliah lagi. Sebelum kebijakan dan anjuran social (or physical) distancing, aku udah berniat mampir ke perpustakaan kampus untuk ngasih beberapa buku. Novel-novel yang aku beli cuma karena lagi diskon, dan I wasn’t impressed by them. Tapi niat jadilah niat saja.
Hal apa yang mau kamu lakukan setelah pandemi selesai?
Setelah dipikir lagi, ternyata yang penting bukan mau pergi ke mana, tapi mau ketemu siapa.
Nggak nyangka anak introver rumahan bisa ngerasa begini, tapi terjadi.
Kangen ketemu orang.
Kangen keramaian. Perjalanan.
Aku kangen baca buku puisi, terutama dari penyair senior. Suka banget Hujan Bulan Juni, puisi-puisi di dalamnya berbicara padaku. Sendirian selalu bikin aku kontemplatif dan kepingin sesuatu yang romantis. Meminjam selalu jadi pilihan selama ini, tapi sekarang berharap aku punya buku puisi di rumah. Mungkin itu sebabnya aku mulai nulis puisi-puisi sendiri, ngga peduli bagus nggaknya. Sebagian masuk medsos, sebagian lagi ngga.
Kerja dari rumah enak nggak?
Ya pasti ada enak ada nggak enaknya. Kadang lupa kalo masih hari kerja dan baru mandi pagi jam sepuluh. Bakal ada bedanya nggak ya? Apa rasanya kembali ngantor setelah sekian lama nggak kemana-mana? Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: Kapan?
Ketika dua pekan bertambah jadi tiga, kemudian empat. Harus seketat apa jaga jarak? Gimana kita kembali ke kehidupan normal?
Walaupun tetangga masih pada ngobrol-ngobrol depan rumah; anak-anak main layangan, layangannya masuk pagar tembok belakang rumah; dst dkk. Tapi aku berada di posisi pergi ke minimarket depan gang aja tegang. Ngeliat orang antri terlalu dekat jaraknya, tegang.
Ini kenapa sih?
But guys, it’s a pandemic. Pandemi adalah strata tertinggi dalam keparahan persebaran penyakit menular, atau ilmunya epidemiologi. Pandemi ini bikin aku jadi baca-baca jurnal kesehatan masyarakat yang udah jarang dipegang sejak kerja. Jurnal gizi. Artikel WHO. Artikel CDC. Bahkan jurnal ilmiah psikologi, manapun yang bisa diakses secara gratis.
Kalo mau bahasan kesehatannya, bisa liat di sini. Tenang aja, kita nggak perlu jadi lebih produktif.
Baca jurnal ilmiah rasanya hampir seperti kuliah lagi. Sebelum kebijakan dan anjuran social (or physical) distancing, aku udah berniat mampir ke perpustakaan kampus untuk ngasih beberapa buku. Novel-novel yang aku beli cuma karena lagi diskon, dan I wasn’t impressed by them. Tapi niat jadilah niat saja.
Hal apa yang mau kamu lakukan setelah pandemi selesai?
Setelah dipikir lagi, ternyata yang penting bukan mau pergi ke mana, tapi mau ketemu siapa.
Nggak nyangka anak introver rumahan bisa ngerasa begini, tapi terjadi.
Kangen ketemu orang.
Kangen keramaian. Perjalanan.

Comments
Post a Comment