“Aku tidak menyukai diriku yang tidak percaya diri saat bertemu orang yang kuanggap lebih hebat dariku, tapi merasa percaya diri saat bertemu orang yang kuanggap tidak lebih hebat dariku.”
- Baek Se Hee, I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Saya habis nonton video kritik di channel Youtube Sherliza Moe tentang TV series 13 Reasons Why, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jay Asher. Setelah melihat banyaknya backlash, malah jadi kepingin baca novelnya. Bukan nonton filmnya karena, saya udah liat banyak cuplikan dari video YouTube orang dan nggak tertarik. Mungkin bukunya akan ngasih latar belakang tokoh Hannah dengan lebih baik.
Selain kenyataan bahwa dia akhirnya bunuh diri setelah bikin 13 kaset rekaman untuk 13 orang yang dianggap menjadi penyebab bunuh dirinya. Yap, that’s the 13 Reasons Why. Btw, kalau mau belajar tentang fenomena dan kecenderungan bunuh diri, lebih baik rasanya nonton film Korea Elegant Lies. It was so much better. Penggambaran bullying di sekolah yang sangat nyata, juga dampak kejadian buat orang-orang yang ditinggalkan bakal bikin kita mikir 1000x sebelum menyakiti diri sendiri. I thought it worked both ways, orang yang suka ngebully bakal mikir, yang punya suicidal thoughts juga jadi mikir.
Sementara 13 Reasons Why bikin angka kasus percobaan bunuh diri meningkat (well, menurut orang-orang di internet). Atau bikin orang jadi meremehkan ‘seharusnya kalian nggak cengeng kayak Hannah’ etc. Sebagian setuju, karena dalam hal itu, kayak komentar di video bahasan tentang kesehatan mental yang pernah saya liat,
“Insecurities is not an excuse to be a bad person.”
Yap. Walaupun masalahnya orang insecure kadang nggak sadar kalo dirinya bikin orang ngga nyaman, atau memperlakukan orang lain dengan buruk. Terlalu fokus sama diri sendiri, right? Tapi kalo dipikir lagi, mungkin semua orang lagi di masa krisis kepercayaan dan eksistensi diri.
Penting nggak sih apa yang saya kerjakan?
Di saat orang lagi pada sakit dan kehilangan pekerjaan?
Tapi berada di situasi krisis bukan berarti kita harus merasa menderita sepanjang waktu. Seriusan deh. Nggak juga jadi jauh lebih kreatif dari sebelumnya, kalopun kalo bisa bagus. Mengurangi baca berita yang penuh ketidakpastian mungkin bisa membantu. Nggak usah ikut challenge ini-itu yang mengharuskan selalu posting tiap hari. Kalo bisa bikin semangat, bagus sih. Tapi saya pribadi nggak suka karena ujungnya hampir selalu gagal :P. Mengurangi nonton commentary channels (buat saya) sangat membantu. Walaupun ini kadang jadi bahan memulai obrolan.
Sewaktu ada orang yang nanya ‘apa kabar?’ seringkali jawaban saya adalah tentang buku-buku bacaan, film, dan acara TV atau channel Youtube yang lagi sering saya tonton. Semembosankan itu orangnya haha. Jarang jalan-jalan, jarang ke mana-mana kalo weekend dan nggak demen nongkrong pulang kerja. Apalagi sekarang dengan kerja di rumah, makin nyaman dengan pola-kamar-dapur-ruang depan. Atau menyamankan diri, sampe kadang khawatir nanti gimana kalo harus ngantor lagi. Jangan-jangan jadi ngga betah -.-
Nggak ada kesimpulan dari blogpost ini, kecuali sekedar ngeluarin isi pikiran biar lega. Lega (dan nggak cari masalah, efek samping kebanyakan di rumah) udah sangaat bagus. Satu lagi: belajar berdamai sama hal-hal kecil yang sebelumnya kerasa mengganggu. Berdamai sama komen-komen ibu kalian yang merasa anaknya nggak pernah bantuin karena kerja terus. Berdamai sama chat ke rekan kerja yang lama dimengerti. Apapun itu, semua demi kewarasan diri. Believe me.
- Baek Se Hee, I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Saya habis nonton video kritik di channel Youtube Sherliza Moe tentang TV series 13 Reasons Why, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jay Asher. Setelah melihat banyaknya backlash, malah jadi kepingin baca novelnya. Bukan nonton filmnya karena, saya udah liat banyak cuplikan dari video YouTube orang dan nggak tertarik. Mungkin bukunya akan ngasih latar belakang tokoh Hannah dengan lebih baik.
Selain kenyataan bahwa dia akhirnya bunuh diri setelah bikin 13 kaset rekaman untuk 13 orang yang dianggap menjadi penyebab bunuh dirinya. Yap, that’s the 13 Reasons Why. Btw, kalau mau belajar tentang fenomena dan kecenderungan bunuh diri, lebih baik rasanya nonton film Korea Elegant Lies. It was so much better. Penggambaran bullying di sekolah yang sangat nyata, juga dampak kejadian buat orang-orang yang ditinggalkan bakal bikin kita mikir 1000x sebelum menyakiti diri sendiri. I thought it worked both ways, orang yang suka ngebully bakal mikir, yang punya suicidal thoughts juga jadi mikir.
Sementara 13 Reasons Why bikin angka kasus percobaan bunuh diri meningkat (well, menurut orang-orang di internet). Atau bikin orang jadi meremehkan ‘seharusnya kalian nggak cengeng kayak Hannah’ etc. Sebagian setuju, karena dalam hal itu, kayak komentar di video bahasan tentang kesehatan mental yang pernah saya liat,
“Insecurities is not an excuse to be a bad person.”
Yap. Walaupun masalahnya orang insecure kadang nggak sadar kalo dirinya bikin orang ngga nyaman, atau memperlakukan orang lain dengan buruk. Terlalu fokus sama diri sendiri, right? Tapi kalo dipikir lagi, mungkin semua orang lagi di masa krisis kepercayaan dan eksistensi diri.
Penting nggak sih apa yang saya kerjakan?
Di saat orang lagi pada sakit dan kehilangan pekerjaan?
Tapi berada di situasi krisis bukan berarti kita harus merasa menderita sepanjang waktu. Seriusan deh. Nggak juga jadi jauh lebih kreatif dari sebelumnya, kalopun kalo bisa bagus. Mengurangi baca berita yang penuh ketidakpastian mungkin bisa membantu. Nggak usah ikut challenge ini-itu yang mengharuskan selalu posting tiap hari. Kalo bisa bikin semangat, bagus sih. Tapi saya pribadi nggak suka karena ujungnya hampir selalu gagal :P. Mengurangi nonton commentary channels (buat saya) sangat membantu. Walaupun ini kadang jadi bahan memulai obrolan.
Sewaktu ada orang yang nanya ‘apa kabar?’ seringkali jawaban saya adalah tentang buku-buku bacaan, film, dan acara TV atau channel Youtube yang lagi sering saya tonton. Semembosankan itu orangnya haha. Jarang jalan-jalan, jarang ke mana-mana kalo weekend dan nggak demen nongkrong pulang kerja. Apalagi sekarang dengan kerja di rumah, makin nyaman dengan pola-kamar-dapur-ruang depan. Atau menyamankan diri, sampe kadang khawatir nanti gimana kalo harus ngantor lagi. Jangan-jangan jadi ngga betah -.-
Nggak ada kesimpulan dari blogpost ini, kecuali sekedar ngeluarin isi pikiran biar lega. Lega (dan nggak cari masalah, efek samping kebanyakan di rumah) udah sangaat bagus. Satu lagi: belajar berdamai sama hal-hal kecil yang sebelumnya kerasa mengganggu. Berdamai sama komen-komen ibu kalian yang merasa anaknya nggak pernah bantuin karena kerja terus. Berdamai sama chat ke rekan kerja yang lama dimengerti. Apapun itu, semua demi kewarasan diri. Believe me.

Comments
Post a Comment