Sains di Balik Segala Hal yang Ngetren dan Viral


Viral. Terkenal.
Buat orang yang bekerja di bidang marketing, kata follower, tren, relatable, viral, jadi makanan sehari-hari. Sampe mual. Sampai mau tidur di malam hari mikir kenapa si A viral padahal bikin karya seadanya, sementara si B nggak viral padahal kontennya bagus.
Terus kenapa kalo nggak viral? Kalo nggak ikutan tren?

Viral tidak sama dengan dampak. Hanya karena seseorang disebut influencer bukan otomatis dia langsung jadi sosok teladan. Dia terkenal, itu aja. Lalu, saya kembali ke dua blog favorit: Austin Kleon dan Puty Puar. Cuma dua blog pribadi itu yang saya baca, selain artikel jurnalistik buat urusan kerja. Saya ngefans banget sama ilustrasinya Mbak Puty, juga tulisan-tulisannya om Austin. Kenapa?
Eh, kenapa ya?

Mungkin karena mereka pede jadi dirinya sendiri dan nggak takut kurang ngetren. Simpelnya, orang yang ikut tren viral nggak akan setia nulis blog. Lalu apakah mereka bisa disebut influencer? Yang jelas, mereka jelas mempengaruhi blogger yang satu ini untuk tetap ngisi blog, walaupun udah nggak viral, udah nggak hype. Walaupun cuma satu dua orang yang baca, kalo mereka dapet sesuatu yang dirasa bermanfaat, itu sudah lebih dari cukup jadi alasan buat bertahan.

Atau bahkan seperti kata novelis Elizabeth Gilbert dalam Big Magic:
“Kapanpun seseorang mengatakan kepadaku mereka ingin menulis sebuah buku untuk menolong orang lain, aku selalu berpikir, ya ampun, yang benar saja, jangan lakukan itu. Jangan salah paham, kau sangat baik karena ingin menolong orang lain, tapi kumohon, jangan menjadikan itu satu-satunya alasanmu berkreasi, karena kita akan terbebani dengan niatmu yang berat itu, dan jiwamu akan merasa tegang. Aku lebih suka kau menulis untuk menghibur dirimu sendiri daripada untuk menolongku. Atau jika bahan tulisanmu lebih dalam dan lebih serius, aku lebih suka kau membuat karya seni untuk menyelamatkan dirimu sendiri, atau melepaskan beberapa tekanan psikis, daripada untuk menyelamatkan kami.”

Liz Gilbert ada benarnya. Malah, mungkin itu yang menjadikan penulis (atau blogger) bisa menjadi diri sendiri: karena mereka menulis utamanya bukan untuk orang lain. Oh, sains dari segala keviralan? Resep terkenal? Sejujurnya, kebanyakan masih misteri.

Credit: Photo by Anastase Maragos on Unsplash

Comments