Sobat Ambyar Berduka, Angka, dan Mudik

Didi Kempot, penyanyi campursari yang berjuluk godfather of the broken heart, meninggal dunia Selasa, 5 Mei 2020. Berita kematian satu orang terkenal yang diiringi arus ucapan dukacita di media sosial jadi terasa miris hari-hari ini. Seperti adegan di drama Korea Selatan kesayangan saya, Go Back Couple, ketika ibu si tokoh utama Ma Jin Joo meninggal di hari yang sama penyanyi legendaris Michael Jackson berpulang.
Seolah-olah kepergian sang bunda jadi tidak, atau kurang penting.
Dunia mengabaikan dukanya.

Nggak ada drama Korea lain yang bikin saya nangis di episode-episode klimaks walaupun udah berapa kali nonton selain GBC. Referensinya kenapa drama ya, tapi beneran sebagus itu. Dibanding yang sekarang lagi hits drama The World of the Married tapi isinya banyakan cerita perselingkuhan, Go Back Couple lebih layak dapat judul itu.
Ehm. Sampe di mana kita tadi?

Oia. Duka. All in all, campaign Konser dari Rumah yang digagas Didi Kempot dan rekan-rekan berhasil menghimpun dana hingga 5.3 milyar untuk bantuan penanggulangan Covid-19. Jadi orang terkenal bukan berarti isinya kontroversi aja. Kalo keterkenalan dimanfaatkan buat kebaikan, kenapa nggak?

I don’t know where I’m going with this, really. Semua yang saya kerjakan akhir-akhir ini banyak berakhir ke situ. Ketika kematian menjadi sekedar angka di berita. Walaupun orang bilang mereka nggak stres, mereka pasti merasa lebih tertekan dari hari biasa. Buktinya, banyak yang mimpi Covid-19, alias mimpi berada di keramaian terus panik. Atau mimpi aneh lain yang lebih jelas, lebih bisa diingat setelah bangun.

Antara terlalu panik atau terlalu santai, nggak tahu ya, kadang saya ngerasa lebih baik orang panik dan jadi diam di rumah, daripada aturan PSBB dilonggarkan sedikit hebohnya kayak ayam keluar kandang. Satu lagi yang bikin was-was: mudik. Sudah bertahun-tahun keluarga saya nggak pulang kampung pas Lebaran, soalnya kondisi kesehatan bapak nggak memungkinkan. Jadi memang nggak ada persiapan pergi kalopun ngga ada pandemic.

Tapi yang lainnya? Alasan kalo dicari, mah, ada aja. Kesannya legitimate. Walaupun media udah berusaha bikin iklan-iklan orang nggak mudik, tetep aja begitu jalur penerbangan domestik dibuka bandara ramai. Ya gimana? Kata pejabat A begini kata pejabat B begitu. Pas denger langsung cerita teman yang bekerja di front line, sesak dan panasnya pakai APD lengkap di bulan puasa; baju basah keringat, dehidrasi, pusing. Mau nggak mau jadi kepikiran.

Plis lah, kalo kamu aja bosan di rumah. Mereka lebih bosan lagi di rumah sakit. Nggak jelas kapan bisa pulang. Pernapasan terbatas dan ngerasa repot kalo keluar rumah mesti pake masker? Yang pake masker biasa aja begitu apalagi yang pake N-95. Mudik vs nggak mudik? Balada yang nggak selesai-selesai.

Comments