Cerita-cerita Kepemimpinan eps.1

Yang satu ini dari adik saya. Sebenarnya, ada banyak cerita berharga dari dia, tapi ini salah satu yang begitu berkesan. Melebihi cerita dari penulis-penulis nonfiksi favorit saya: duo Stephen dan Steven yang nulis Think Like A Freak; Charles Duhigg dan Power of Habit; atau penulis Predictably Irrational yang fenomenal: Dan Ariely. Kejadiannya udah lama. Cuma saya entah kenapa tiba-tiba keingat pas lagi baca bukunya Sophia Mega, Lo Ngerti Siapa Gue.

Suatu hari di hari kerja biasa sebagai asisten manajer produksi di sebuah pabrik makanan. Ada kejadian tidak biasa, membuat Z memanggil seorang operator mesin yang baru sehari sebelumnya bolos kerja. Dengan kapasitas produksi raksasa setiap harinya, satu bagian mesin yang ditinggal sama operatornya selama sehari penuh menyebabkan bukan cuma proses produksi terhambat, tapi kerugian materi yang tidak sedikit. Si bapak operator ini ngga bilang apa-apa ketika itu, dia tiba-tiba aja nggak masuk kerja.

“Kalo manajer-manajer ngehadapin yang begini mungkin udah marah-marah sambil gebrak meja," kata Z, “Dan wajar kalo marah, orang nggak ada kabar sama sekali.” Tapi buat apa juga? Pikir dia waktu itu.
Toh kejadiannya sudah terjadi. Belum lagi dampak psikologis yang nggak bisa terukur kalo pake acara pamer arogansi macam itu. Ditambah si bapak udah berumur, sementara dirinya anak muda meskipun punya posisi struktural lebih tinggi. Akhirnya Z mengambil pendekatan lain.

“Bapak pernah nggak, selama ini perusahaan telat bayar gaji, atau nggak ngebayar tunjangan yang seharusnya dibayarkan?”
“Nggak, pak. Tapi kemarin itu saya..nggak enak badan, pak. Dan..”
“Nah, tapi bapak kan bisa ngasih kabar? Kalo ngga ada kabar seperti yang bapak lakuin kemarin itu bikin perusahaan rugi, pak. Bikin pekerja yang lain repot juga. Sementara perusahaan selama ini merhatiin hak bapak. Adil nggak kalo begitu?”
Begitulah isi percakapan Z dan bapak operator mesin hari itu, kurang-lebih.

Kuncinya, katanya, jangan menjadikan masalah sebagai ajang kompetisi ‘saya vs kamu’. Balikin semuanya ke kepentingan perusahaan. Urusan kebaikan bersama. Apa yang perlu diperbaiki. Fokus aja kesitu. Kalo main salah-salahan, nanti pas kejadiannya udah selesai, bapernya nggak ikut selesai. Tentu saja ini easier said than done, tapi jadi perspektif baru buat saya yang kadang suka buru-buru ngambil kesimpulan.

Nah, tapi gimana ketika kita yang berada di posisi sebagai staf dan punya atasan yang bikin ngurut dada? Beda lagi ceritanya. Weekend lalu saya ngobrol sama kakak, curhat dan dicurhatin balik (simbiosis mutualisme :D) terus kita ngomongin kenapa ya staf milenial suka dicap sok tau di tempat kerja? Kenapa pemimpin milenial (a.k.a anak muda) tidak selalu berarti lebih terbuka terhadap kritik? dan kita berdua sampe ke kesimpulan yang mirip.
Apa itu?

Saya tadi bilang kalo lagi baca sebuah buku tentang personal branding karya Sophia Mega, dan pingin memasukkan beberapa hal yang saya dapat dari situ. Juga dari beberapa bacaan lain. Jadii..sampai ketemu di post eps.2! Kalo yang baca mau repot-repot balik ke sini buat cerita kepemimpinan berikutnya :]

Comments