Mr.Lee Clean Center dan Isu Kematian Soliter di Korea Selatan

Lee Soondong adalah orang yang bitter, orang yang pesimis, tentu saja, orang seperti ini tidak mendapatkan tempat di dunia yang diskriminatif ini karena merusak hari orang-orang optimis di luar sana. Clean Center-nya berurusan dengan hal yang jarang diinginkan orang lain, mengurusi mayat orang yang mengalami kematian soliter dan barang-barang peninggalan mereka.

Saya pernah melihat resensi buku Mr.Lee Clean Center ini di Goodreads dan cukup banyak mixed reviews, ada yang memberi ulasan positif ada yang ulasannya sangat negatif. Nggak ada salahnya, pikir saya waktu itu. Toh saya beli bukunya preloved, alias bekas. Jadi harganya hampir setengah harga beli baru. Yang menarik sebenarnya adalah pondasi dari premis cerita ini sendiri, berangkat dari fenomena nyata kasus kematian soliter di Korea Selatan yang memunculkan jasa ‘pembersihan’ sejenis ini.

Apa itu kematian soliter?
Kematian soliter, seperti namanya, adalah fenomena orang yang mengalami saat-saat terakhirnya di dunia sendirian, tidak ada orang lain yang tahu, seringkali baru diketahui setelah beberapa hari meninggal dan aroma tubuh yang sudah mati tercium keluar sehingga orang menelepon polisi. Atau hingga ada anggota keluarga yang tidak dapat menghubungi merasakan ketidakberesan dan mendatangi tempat tinggal mereka.

Saya penasaran karena pernah denger jasa clean center semacam ini ada aslinya, sambil baca novel itu beberapa hari lalu, saya riset di internet. Isu kematian sendirian ini rupanya banyak dibahas sekitar tahun 2017, soalnya hampir semua berita terkait berasal dari 2017. Selain Korea, fenomena ini juga banyak terjadi di negara Jepang. Saya jadi ingat dokumenter aneh-aneh semacam yang dibuat channel Vice yang bertema fenomena sosial di Jepang. Ketika menonton film-film dokumenter tersebut, saya mikir, Wah, mereka memang teknologinya maju, tapi orang-orangnya menderita dan kesepian.

Tentu saja ini cuma pemikiran satu sisi karena yang saya tonton memang menyoroti hal yang bikin kita miris. Tapi fenomena ini, menurut saya, bisa jadi adalah efek kehidupan modern yang terlalu mendewakan satu hal: independensi. Individualitas sampe ke tahap orang nggak lagi sering berkabar sama keluarga. Jadi kalo ada apa-apa orang terdekat terlambat tahu. Atau lebih parah lagi, emang nggak ada orang yang merasa kehilangan. Apalagi sama tetangga sebelah juga nggak kenal. Nggak ada yang bertanya-tanya; kok si A udah lama ga keliatan? Udah lama ngga ngobrol sama si B yang suka lewat depan rumah pas berangkat kerja, ke mana ya dia?
Dan mungkin juga hal ini: akar kompetitif dan pandangan orang soal kesuksesan yang semua diukur materi. Jadi kalo orang nggak bisa memenuhi itu, lebih mending memutuskan komunikasi sekalian daripada dinilai rendah sama orang-orang.

Menurut laman berita Korea Herald, terjadi peningkatan kasus kematian soliter hingga hampir 80 persen dari 1021 kasus di tahun 2012 menjadi 1833 kasus pada 2016. Seiring peningkatan jumlah 1 person household meningkat dari 4,14 juta di tahun 2010 menjadi 5,29 juta pada 2016.

Sekarang pas denger kabar orang nikah muda; masih kuliah misalnya, saya jadi ngga sewot-sewot amat. Yah, daripada anak-anak muda pada menganggap nikah itu merepotkan, kelamaan lajang, tinggal sendiri dan jadinya ketika ada kondisi emergency ngga ketolong. Karena fenomena kematian soliter ini bukan hanya menimpa orang lansia, tapi juga usia paruh baya dan anak muda yang tinggal sendirian. Seperti keprihatinan yang terjadi di Jepang.

Walaupun tumbuh besar sebagai orang yang nggak pernah populer, ngga banyak teman main waktu kecil dan makin sedikit pas udah dewasa, saya nggak kebayang berada di posisi nggak punya orang yang khawatir ketika saya nggak bisa dihubungi berhari-hari. Apalagi pandemic Covid19 bikin makin berasa sendiriannya. Makin kerasa kalo kita itu hidup bergantung sama orang lain, bahwa manusia pada dasarnya makhluk sosial.

Dunia ini penuh masalah yang nggak seinstan mie, tapi kadang orang mikirnya maunya solusi instan. Contoh ekstrimnya jasa menyewa teman. W o w. I have no idea why I write this on my day off, really. Such gloomy thing. Tapi mengetahui hal-hal getir bikin saya merasa lebih bersyukur sama apa yang sama punya. Mungkin bawaan orang dengan pesimisme defensif, seperti istilah Adam Grant dalam karyanya Originals, bisa ngelihat masalah dengan lebih baik kalo dikasih kenyataan yang nggak selalu positif. Lagipula, apa bagusnya sih melihat dunia dari sisi positif saja? Rasanya nggak jujur dan bikin kita nggak bisa melihat masalah apa adanya.

Saya juga lagi berada di posisi bosan ngelihat kampanye mencintai diri yang beredar di medsos, yang infonya sering berat sebelah. Apakah mengabaikan semua masalah selain urusan sendiri menjamin kita bahagia? Atau kita cuma menghibur diri dan berharap kalo diabaikan, masalah lainnya bakal hilang sendiri?

Comments