Indonesia yang Senang Bercanda


Bukan cuma di Indonesia, tapi para pemimpin dunia. So-called world leaders. Yang seharusnya memimpin, malah ribut berebut panggung dan pengaruh. Kalo pada baca berita, pasti bisa menyimpulkan sendiri. Setiap lihat berita, apalagi soal Covid-19, saya jadi keingat adegan di drama Cina The Legend of Han Yunxi, ketika Raja Tianning mengetahui harta sitaan pejabat korup dibagikan oleh saingan politiknya (Pangeran Qin) untuk membantu rakyat yang terkena bencana alam, dengan marah dia bilang:
“Pangeran Qin, kamu mengambil hati rakyatku dengan uangku.”
Wow. Dia benar-benar nggak peduli siapapun kecuali diri sendiri, pikir saya waktu itu.

Menurut kaidah politik kerajaan dalam cerita tersebut, harta sitaan menjadi bagian dari kekayaan milik negara, yang bisa digunakan buat membiayai perang. Tapi Pangeran Qin ‘mengakali’ kewenangannya sebagai petugas penyita dana tersebut untuk langsung menyalurkan ke masyarakat.
Sementara sang Raja ingin menggunakan hasil sitaan itu untuk memperkuat pasukan militer di perbatasan antara Tianning dan Beili, kerajaan tetangga, padahal rakyatnya banyak yang miskin dan kelaparan. Cina daratan di masa itu ceritanya terbagi menjadi 3 kerajaan; Tianning, Qiyi, dan Beili yang saling berperang berebut kekuatan dan wilayah.

Saya nggak tahu seberapa akurat drama tersebut dibandingkan sejarah aslinya, tapi emang bukan itu yang lagi dibahas di sini. Sepanjang nonton serial drama politik kerajaan itu, saya ngerasa banyak lobi-lobi dan strategi politik yang mengingatkan sama hal-hal di dunia nyata yang kita baca dan tonton di berita.

Ribuan orang meninggal karena pandemi. Tapi para politisi kelihatannya masih asik sama pencitraan diri. Niat bantuin beneran, atau biar keliatan baik buat pemillihan berikutnya? Rakyat yang nggak terlalu ngerti, cuma bisa ngurut dada melihat semua ini. Politisi baik serba salah; seperti Pangeran Qin yang tiap berbuat baik dicurigain melulu sama Raja Tianning kalo itu usaha mengambil hati rakyat, supaya nanti gampang kalo mau kudeta kedudukan raja. Kerja bener, kena buruk sangka ada niat lain. Kalo kerja nggak bener? Dijadiin kesempatan buat melemahkan wewenang politiknya.

Menariknya, banyak adegan Raja dan ajudan-ajudannya yang bikin yang nonton gemas; para menteri sibuk memuji segala kebijakan politik Raja yang ‘bijaksana’ padahal keputusannya jelas-jelas cuma demi menguatkan posisi di mata pejabat tinggi lain. In my head I was like: Hei, Raja lo tuh nggak ngapa-ngapain buat rakyat, dia cuma peduli besok dia masih jadi raja apa nggak. Ini benar-benar omong kosong.
Ah, yang salah siapa kalo begini? It felt a little too real.
Indonesia yang senang bercanda. Ibarat tagihan listrik yang banyak galaunya.

Comments