Beberapa waktu lalu, saya diskusi sama adik tentang hal-hal yang, menurut istilah saya, kita sadari di pertengahan usia 20-an. Waktu lagi ngobrol, adik saya cerita soal kasus fraud Theranos di Silicon Valley yang dimulai dari investigasi tahun 2015 dan masih berlangsung proses hukumnya sampai sekarang, sama yang lokal gres kerugian nasabah perusahaan financial planner Jouska.
Habis itu, saya nulis daftar pandangan saya yang berubah di usia ini.
Salah satunya saya tulis di jurnal begini:
“Banyak orang hebat, atau dianggap hebat, sebenarnya biasa aja. Cuma jago personal brandingnya.”
Dalam bahasa halus: jago ngomong doang. Apalagi setelah baca Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking karya Susan Cain (2012), saya kayak dapat validasi atas kecurigaan dan skeptisme saya selama ini, yang suka dianggap berlebihan sama orang-orang (kadang emang iya sih). Baca buku itu bikin saya jadi mengerti kenapa saya susah percaya sama orang (atau brand, perusahaan) yang kelihatan terlalu sempurna.
Introverts suka mengamati, berhati-hati, maka lama mengambil keputusan.
Ekstroverts bersemangat, menyambut resiko dengan tangan terbuka.
Keduanya punya sisi positif dan negatif.
Saya berkali-kali merasa diingatkan sama Susan Cain kalo setiap orang punya kontradiksi, hal yang bertolak belakang, dan itu wajar. Seperti nggak semua introver pasti pemalu atau ekstrover pasti ceroboh. Masalahnya, budaya modern (di Quiet dibahas kalo akarnya udah dimulai dari 1920-an di Amerika dan Eropa) sekarang ini cenderung terlalu mengunggulkan karakteristik umum ekstrover. Istilah sejarawan Warren Susman, generasi masa kini mengalami pergeseran dari ‘a culture of character to a culture of personality’.
Maksudnya apa?
Hal-hal yang dulu dianggap keunggulan adalah karakter: kejujuran, dkk. Tapi sekarang bergeser ke urusan kepribadian: ceria, atraktif, pintar berbicara di depan umum, dkk. Menilik kasus Jouska dan Theranos, saya mikir, wah benar juga ya. Jouska dan Theranos berakhir ditutup praktik bisnisnya. Merugikan klien-klien mereka. Dalam kasus Theranos bahkan bisa dibilang membahayakan nyawa orang karena bisnisnya terkait urusan medis, blood testing.
Ex-CEO Theranos, Elizabeth Holmes, seorang yang kelihatan sangat kharismatik. CEO Jouska, Aakar Abhyasa, juga orang yang mahir menampilkan diri di depan publik. Publikasi media sosial Jouska bahkan dulu jadi salah satu referensi saya sebagai orang marketing di kantor. Orang-orang, nasabah, investor, semua terpukau sama hal yang sifatnya permukaan. Hasilnya? Kerugian besar-besaran.
Ini mengarahkan saya ke poin no.5 di daftar: Fokus pada apa yang diomongin seseorang, bukan cara menyampaikannya.
Misalnya, kalo ngomongin financial planning, cek riwayat perusahaan. Ngobrol sama orang yang pernah pakai jasa mereka. Analisis rencana keuangan yang ditawarkan secara objektif. Ajukan pertanyaan kritis seperti, model bisnisnya mereka gimana sih? Abaikan dulu pengaruh dari publikasi atau istilah umumnya “branding” yang ada.
Kalo ada kesempatan, baca deh bukunya Susan Cain. Bukan cuma orang introver aja yang bisa dapat sesuatu dari Quiet. Really a nonfiction book that worth your money.

Comments
Post a Comment