Photo by Coffee Geek on Unsplash
Beberapa waktu lalu, ada yang
bilang kangen sama tulisan saya. Jadi nangis terharu merasa
diingatkan untuk menulis lagi. Bukan karena mengisi blog buat saya adalah
kewajiban, tapi karena jarang ngisi blog adalah salah satu pertanda kalau saya
lagi kebanyakan nonton YouTube, baca komen, dan atau ngomenin orang di
internet. Intinya kurang banyak berpikir lambat.
Berpikir lambat?
Apa bagusnya? Bukankah kita
berada di dunia yang bergerak serba cepat? Ya, tapi buat seorang yang
menjadikan menulis sebagai sumber nafkah, apalah sebutannya; jurnalis, content
writer, copywriter, atau penulis novel nggak best seller, berpikir lambat
adalah aset berharga.
Oke, oke. kalo ngga familiar dengan versi saya versi kerennya bisa dibilang berpikir kritis. Tapi ada satu unsur berpikir kritis: melambat.
Tentu saja, nggak semua hal perlu dipikirin lambat. Kalo masalah sehari-hari
seperti memutuskan mau makan pake piring motif apa ya jelas nggak perlu. Baru kemarin
saya baca artikel tentang minum kopi nggak usah diromantisasi di mojok.co, dan
kepikir gini: Wah setuju banget nih.
Kemudian saya keingat pengalaman saya
sendiri bikin kopi dari masih berbentuk biji kopi. Harga kopi racikan barista
lebih mahal dari di warung kopi? Wajar sih sebenarnya, terlepas dari rentang
harga yang makin hari makin bervariasi. mulai harga 15 ribu sampe 50 ribu.
Bukan cuma urusan sewa kafe, dkk, tapi karena memang meracik kopi yang enak itu
susah.
Saya bikin kopi sendiri biasanya
kalo lagi di rumah kakak yang punya grinder kopi manual. Pegal ternyata buat
giling biji kopi 10 gram aja. Udah gitu sering ngga sesuai ekspektasi lagi
hasilnya. Bikin kopi susu gula aren (yang keliatan simpel) enak itu memang
nggak gampang. Mempertahankan konsistensi rasa itu ada seninya. Menemukan
racikan yang pas juga butuh waktu.
Ini bukan soal romantisasi, tapi
berdasarkan pengalaman seorang peminum kopi yang baru-baru ini belajar brewing
sendiri. Sampe emosi karena kopi racikannya kalo ga terlalu pahit, terlalu
manis, atau nggak ada rasanya. Menarik, karena saya juga tadinya suka
meremehkan kerja barista di kedai kopi. Ya walaupun banyak juga kedai kopi yang
racikannya mirip bikinan saya: kepahitan (jarang), seringnya kemanisan, atau
hambar. Entah kebanyakan susu atau krimer.
Ketika saya berpikir melambat,
pikiran saya yang asal ‘iya,bener tuh’ bisa berhenti sejenak dan berkaca pada
pengalaman saya sendiri. Sebagai penulis konten, saya menyadari banyak ide saya
yang udah pernah dibuat artikel atau konten medsos oleh yang lain. Lebih bagus-bagus,
malah. Minder?
Nggak juga. Memang hakikatnya begitu.
Bukan berarti kurang kreatif. Ingat nasihat om Stephen King dalam On Writing: 'Kalau kamu tidak punya waktu
untuk membaca, kamu tidak akan punya waktu (atau peralatan) untuk menulis.' Semua
ide tulisan kita berasal dari tulisan-tulisan lainnya yang pernah kita baca. Dan
membaca tulisan panjang mengharuskan kita melambat.
Ah iya, kalo pernah kepingin ikutan,
lebih baik lupain aja soal kursus membaca cepat, oke? Konyol sekali. Membaca
kan bukan cuma soal jumlah halaman, tapi pemahaman. Memangnya kita lagi
kompetisi. Ya, konyol menurut saya sih. Menurut orang yang bikin kursus-kursus
itu tidak.

Comments
Post a Comment