Parenting: Antara Belajar dari Buku atau Orangtua Sendiri

Workshop menulis bareng ibu-ibu, dok.2018


Entah efek pertambahan usia, atau banyak waktu bersama keluarga di rumah, saya nggak tahu pasti. Mungkin ada pengaruh keduanya. Akhir-akhir saya suka baca postingan parenting di Insta, terus juga baru aja baca blog yang bahas pembagian tugas suami-istri. Dari sekian info yang saya baca, banyak yang cukup menambah informasi masuk akal, tapi ada yang bikin gerah dan mikir, “Kok gini amat ya..?”

Aduh, Han, emangnya udah jadi orangtua? Ya belum sih. Nikah juga belum. Tapi..KAN INI BLOG SAYA SENDIRI TERSERAH DONG MAU NULIS APA BUND. Loh kok ngga nyante jadinya

Beberapa waktu lalu saya ketemu dan ngobrol sama beberapa teman, ketika berita soal virus varian baru dari India belum marak. Habis itu udah deh kembali menegakkan #dirumahajadulu alias #dirumahajalagi. Anyway, salah satu hal yang jadi topik pembicaraan dan keluhan selain urusan karir, kabar2 yang lagi ngetren, dkk adalah soal keluarga, terutama orangtua. Teman saya sempat bilang kalau dia ngerasa nggak ada perubahan pemikiran yang berarti dari awal usia duapuluhan sampe sekarang posisi udah di tengah-tengah. 

Kemudian masuk cerita tentang bekerja dari rumah (kebetulan semua yang hadir sama-sama fulltime working from home) dan gimana hal itu mengubah pandangannya mengenai banyak hal, terutama perkara printilan yang dulu suka diributin sama orang rumah, jadi nggak terlalu masalah lagi. Karena melihat gimana ibunya repot ngurus rumah (apalagi teman saya punya adik-adik yang masih sekolah) dan suka nggak sempat kepegang semua perkara beberes. 

“Nah itu, perubahannya, yang tadi kamu cari!” Saya tiba-tiba nyeletuk.

Perubahan pola pikir dari yang serba 'orang lain harusnya begini' jadi lebih adem memandang permasalahan dan bisa melihat bagian 'seharusnya saya gimana' atau 'kalo saya di posisi orang itu gimana' adalah salah satu tanda kedewasaan. Ya walaupun praktiknya nggak selalu begitu, tapi lebih banyak porsi ademnya daripada panasnya.

Gimanapun perkembangan dunia modern, era digital, disrupsi, u name it, rasanya masih ada hal-hal  relevan dari keluarga sendiri yang bisa diambil soal menjaga hubungan keluarga yang harmonis, selain juga yang nggak mau diikuti. Termasuk ‘jaringannya’: Pengasuhan anak, komunikasi dengan pasangan, dan lainnya yang sekarang punya nama dan istilah semakin beragam seperti varian rasa kopi kekinian. Kalo teman-teman suka baca buku parenting, saran dari Puty Puar ini bisa jadi acuan, biar lebih seimbang memandang antara teori dan praktek, antara belajar dari baca vs pengalaman.

Walaupun orangtua kita hasil pola pengasuhan jadul, pengasuhannya kita anggap jadul, tapi kalo kita yang merupakan hasil pengasuhan itu bisa jadi orang dewasa yang mandiri dan mau bertanggung jawab sama hidupnya, berarti ada hal-hal baik yang bisa kita ambil disana, kan?  

Comments