Aku, Kamu, dan (Real-life) drama part.2 : Frenemies


“What doesn’t kill you make you stronger.”

Itu salah satu judul lagu favorit saya (pada masanya). Tapi liriknya memang deep dan kita semua, more less, bisa relate to. Bisa dibilang sekarang saya berpegang pada kalimat itu buat menghibur diri pas lagi ngerasa down. Oke. Jadi kenapa judul tulisan ini part 2 dari yang ini?
Karena saya ngerasa perlu menjelaskan beberapa hal lebih lanjut. Di part.1, saya sempat nulis saya ngga bertanggung jawab terhadap perasaan kamu (di paragraf tengah). Tapi nih ya, if you read the whole story, you’ll get the point kalo itu bukan dimaksudkan sebagai alasan buat saya boleh mengkritik orang lain tanpa menyunting perkataan saya supaya lebih enak dibaca, eh didengar. Maksudnya adalah, yang namanya kritik, saran, masukan, itu kadang kedengerannya ngga enak di kuping. Baik dikatakan dengan manis ataupun pahit. Bahasa santun ataupun ngga santun. Itu fakta. Ga ada yang suka dikasih tau kekurangan mereka sama orang lain. Termasuk saya. Tapi menerima atau menolak perkataan atau nasihat orang lain hanya berdasarkan tingkat kesukaan kamu terhadap perkataan (atau orang) itu ga akan bikin kita maju. Ga akan bikin kita jadi orang yang lebih baik.

Oke. Real-life drama nya di bagian mana kak? Jadi gini. Tau ngga istilah frenemies? Friends but enemies. Sejujurnya, banyak tulisan blog atau postingan saya di Instagram yang terinspirasi dari seseorang. Karena perkataan atau perbuatan dia yang saya ngga setuju dan saya bikin post tentang hal itu. Tapi saya menyadari hal ini setelah beberapa waktu, which is memang subjektif karena berdasarkan pengalaman saya berinteraksi sama dia, dan pemikiran saya selama itu, you know what I mean.

Sebelumnya kenapa saya mengategorikan dia, hubungan kami, ceilah, sebagai friends but enemies? Jadi gini. Saya ngga suka sama dia karena dia cenderung over ketika react terhadap segala sesuatu yang berhubungan sama dirinya, tapi ngga peka sama keadaan orang lain. Dia ngga suka sama saya, atau lebih tepatnya ngga suka sama perilaku saya (which is the other way around) karena dia pikir saya orangnya kasar. Saya terlalu terbuka ketika menyatakan pendapat, dan cenderung ngga “memikirkan perasaan orang lain”. FYI ajanih, saya memang ga bisa selalu bersikap manis. Tapi saya berusaha fair. Saya memang gampang ngasih kritik, I admit that, tapi yang dia ngga sadar (dan mungkin juga ga peduli) adalah saya juga mudah memberikan apresiasi. Akhir akhir ini dibiasakan spt itu. Btw saya ngga percaya orang punya sifat baik bisa terjadi hanya karena dari sananya dia baik, hal baik itu ngga bisa kita harapkan terjadi begitu saja, harus diusahakan, like it or not. Saya mikirnya, oke saya emang ngga bisa bilang sesuatu itu bagus ketika saya pikir itu ngga bagus, tapi ini akan diimbangi dengan kalo ada sesuatu karya orang lain yang saya hargai, yang saya suka, saya juga akan bilang.

Lagipula siapa bilang sih kita ngga bisa menghina atau merendahkan orang lain dengan kata-kata manis?

Teman saya ini sangat jago dalam hal itu. Dia penulis. Bukan formal udah nulis buku atau segala macam, tapi dia memiliki jiwa penulis. Yang artinya jago bermain kata. Dan pas saya nulis opini atau insta post, atau saya lagi ngritik dia, orang ini (hampir) selalu berhasil menemukan kekurangan dalam argumen saya dan menyerang balik dengan mengutip hal itu. Like, misal saya nulis tentang manfaat dari makan coklat setiap hari untuk kesehatan (ngarep ya haha) trus di ujung paragraf terakhir saya bilang contoh coklat yang baik dengan kadar gula kurang dari 10 % adalah produksi PT A. terus dia komen “Coklat hasil produksi PT. A kadar gulanya 12 persen ” (ya, plus emoticon smile -.- )

Oh. Oke. Jadi dari tulisan sepanjang hampir satu halaman itu yang dia cermati, yang dia pilih untuk dikomentari, bukan argumentasi saya, bukan referensi dari tulisan yang saya gunakan, tapi kesalahan saya nulis kadar gula coklat produksi PT. A, yang itu bahkan bukan inti dari tulisan tersebut. Menurut saya itu lebih bikin sakit, dan merendahkan saya dibanding orang bilang secara to the point, “Hanifa tulisannya flat. Hanifa kalimatnya masih muter muter, intinya apa? ”

She is my frienemies. tanggapan seperti contoh kasus coklat PT. A itu terjadi ga cuma sekali. Setiap kali, itu bikin saya bertanya-tanya apa orang ini beneran teman saya. Dia selalu ada buat menemukan kesalahan saya, tapi ngga ada untuk apresiasi karya yang bagus, atau ikut senang pas saya dapet rezeki.

Another real-life drama. Anyway, kalo kamu mengaku diri peka, jadilah orang peka yang sebenarnya. Jangan cuma peka kalo dikritik atau ada perbedaan pendapat sama orang lain, tapi peka juga kalo orang lain butuh bantuan, atau kalo mau ngasih nasihat; apakah orang lain bisa menerima masukan dengan kondisi emosi dia saat itu. Jangan cuma jago menyarukan ketidaksediaan kamu untuk dinasehati dengan bilang “Ya sama-sama introspeksi diri aja sih.” That is one of the lamest way a person could react to criticism.

Trus gimana menghadapi frenemies? biarin aja. Selama dia ngga bener-bener ganggu. Tapi tetapkan batasan yang jelas, buat statement yang jelas apa yang kamu suka dan ga suka, sampai sejauh mana dia bisa "ngerecokin" kamu. Dari pengalaman saya sih itu mungkin bikin beberapa orang menjauh, tapi better punya sedikit teman daripada banyak tapi semuanya berperilaku seperti frenemies.

Comments