I’ll be reviewing Finding Audrey by Sophie Kinsella! Yeay! Setelah memutuskan this takes too much time untuk dibuat video, and I’m pretty much off doing YouTube, for now, so. Seperti sebelumnya di review The Rosie Effect, ini adalah buku dari perpustakaan UI, no. kode 823.92 KIN f.
jadi cerita ini tentang seorang remaja bernama Audrey, yang mengalami depresi dan anxiety disorder karena dibully oleh teman-teman sekolahnya. Audrey udah ga masuk sekolah sejak itu, cuma pulang pergi dari rumah-tempat terapi-rumah-tempat terapi. Reading this makes me feel, apa ya? Mengingatkan saya terhadap masa-masa gelap saya sendiri, dan juga masa ketika rasanya ada harapan.
Novel ini adalah karya Sophie Kinsella, salah satu penulis YA, atau young adults genre. Atau adults? Saya ga benar2 paham pengkategorian buku. Intinya, Ms. Kinsella biasanya menulis novel tentang kehidupan cinta perempuan dewasa yang mandiri, atau yang sudah menikah, etc. sejauh yang saya tahu, novelnya dengan tokoh remaja baru novel ini. Buku ini benar-benar berbeda dari topik yang biasa ditulis Ms. Kinsella. Ada cerita cintanya, atau lebih tepat taksir-taksiran ala remaja, tapi itu bukan inti ceritanya. This feels more of a family story, even though the boy crush have a critical role in the story too.
Ok, lanjut. Ceritanya berputar di sekitar Audrey dan perjalanannya menuju kesembuhan dari anxiety disordernya, diperkuat dengan hubungan antara Audrey dan Linus, teman adiknya yang nggak menganggap penyakit Audrey aneh, tapi lebih ke penasaran dengan apa yang Audrey rasakan. Selain dari kebaikan dan kejujuran Linus yang menyentuh Audrey, tokoh lain yang saya benar-benar suka adalah karakter Frank, adik Audrey. Frank digambarkan sebagai tipikal remaja yang suka main game, menganggap orangtua suka ikut campur urusannya, tapi juga menarik dengan permainan kata yang dilakukan supaya bisa “menang” dalam perdebatan dengan orangtuanya.
Dan juga tokoh Dr. Sarah, terapis Audrey. Kalau di cerita mengenai depresi biasanya psikolog digambarkan sebagai orang yang sok tahu dan nggak banyak membantu, di sini tokoh Dr. Sarah mengingatkan saya dengan Mba D, konselor di kampus yang pernah saya datangi di beberapa sesi konseling. Ada satu bagian cerita di mana Dr. Sarah menggambarkan grafik untuk Audrey, a jagged graph, grafik naik-turun, yang intinya menggambarkan progress kita dalam hidup. Dr. Sarah nggak bersikap sok tahu, Dr. Sarah membantu Audrey untuk berpikir sendiri, dengan lebih jernih, tentang persepsinya mengenai diri sendiri.
Ceritanya lucu, mengalirnya enak, walaupun plot nya lebih lambat dari gaya menulis Sophie Kinsella biasanya. Sebagai orang yang pernah mengalami masa down yang bikin really-really hopeless, saya seolah-olah membaca cerita tentang diri saya sendiri (well, tanpa ada tokoh yang serupa Linus, karena ngga ada crush yang terlibat di perjalanan saya, haha); kecemasan, ketakutan saya. Perasaan senang saat saya berhasil melakukan sesuatu yang bikin saya lebih percaya diri walaupun cuma hal kecil.
Yang saya kurang suka, uniknya, juga adalah hal yang bikin saya suka cerita ini. Tokoh Linus yang baik hati, ngga berprasangka, rasanya.. seperti terlalu sempurna. I really like him, but, honestly, sometimes it feels too good to be true. He’s a teenage boy. How can he be so wise but also funny at the same time?
Tapi. Saya tetap suka cerita ini karena. Ceritanya Audrey nggak akan bikin kita ngerasa sedih banget, baper banget, gitu-gitu. Tapi menyentuh dan menceritakan banyak poin penting dalam recovery dari depresi, dengan mempertahankan alur cerita yang ngga “terlalu serius”.

Comments
Post a Comment