Bukan Sekedar Sehat Mental

“Lagi ngetren ya ngomongin soal mental health sekarang,” komentar teman kerja saya pas lihat poster talkshow tentang stigma kesehatan mental.
Iya, ya? Dulu saya juga pernah mendedikasikan satu post tentang pengalaman saya ke psikolog.

Saya jadi keinget artikel Business Insider yang bilang kalau millennials lebih banyak menderita depresi dibanding generasi sebelumnya, tapi mereka juga lebih terbuka untuk pergi terapi dan mendapatkan bantuan profesional.

Saya juga habis nonton kritik Drew Gooden buat Lilly Singh, komedian YouTube terkenal yang lalu masuk ke jaringan TV dan punya acara Late Night Show sendiri. Lilly Singh sempat bilang kalau penulis, produser, kru acaranya nggak ada yang pernah complain soal performanya. Mereka semua baik. Padahal rating acaranya turun terus tiap minggu karena jokesnya garing. What? They all a mess. Mengingatkan saya soal konsep kesehatan mental. It’s not just about loving yourself, it’s about knowing yourself. The good, and the bad.

Mengatakan sesuatu yang orang-orang suka dengar, padahal bukan kebenarannya, nggak akan membantu siapapun. Istilahnya, AKS atau asal kamu senang.
Menjadi orang yang pernah dibully dan secara umum nggak disukai waktu sekolah, saya belajar bahwa dari sisi yang orang nggak suka dari kita, kita harus bisa memilahnya, ada yang memang buruk, ada hal-hal yang harus kita pertahankan karena itu bagian diri kita. Menghindari masalah karena nggak mau berdebat nggak selalu baik. Bersikap baik dan manis itu nggak sama.

Saya adalah orang yang terus terang, most of the time, jadi sulit buat saya menerima pendapat orang yang mengatakan hal-hal manis demi nggak berantem tapi setelahnya ngedumel di belakang. Pasti ada saatnya kita nggak bisa terus terang, misalnya pas lihat orang pakai baju warna nggak match, atau sama rekan kerja yang baperan. Tapi saya mikir setidaknya sama orang-orang terdekat saya harus bisa ngomong apa adanya. Kalo sampe saya nggak melakukan itu, nggak kebayang hidup saya bakal seperti apa. Payah, yang jelas.

Menurut saya adalah hal wajar kalo orang punya hubungan dekat sesekali bertengkar, nggak sependapat. Mana ada yang nggak pernah? kalo ada kaka adik nggak pernah ribut, berdebat, well, bukan karena skaing harmonisnya mereka, tapi mungkin mereka memang nggak dekat satu sama lain. Cuma ketemu pagi pas mau berangkat dan malam pas pulang ke rumah.

Comments