Photo by Patrick Perkins on Unsplash
“Jika membandingkan betapa susahnya mencari pekerjaan dengan melamar secara mandiri dan mendapat tawaran pekerjaan berkat apa yang saya bagikan di media sosial, ternyata media sosial bisa sangat powerful untuk urusan ini. Meskipun kita bukanlah selebgram dengan followers ribuan.”
- Sophia Mega, Lo Ngerti Siapa Gue
Wow. Ini tepat sekali, pikir saya. Beberapa waktu lalu sepupu saya cerita mengenai susahnya mencari pekerjaan. Dia baru lulus S1 awal 2020 lalu. Yah, nggak usah lagi pandemic Covid-19, di keadaan biasa aja cari kerja susah. Ngirim belasan, bahkan puluhan lamaran kerja sebelum dapat panggilan wawancara bukan hal baru (terutama kalo targetnya yang disasar korporasi besar). Baru wawancara ya, belum ditawarin pekerjaannya. Optimasi media sosial selagi menunggu panggilan wawancara kerja bisa jadi sesuatu yang bikin kita tetap sibuk dan, bisa jadi jalan dapat pekerjaan juga.
Apa yang dibagi? Ya, apa aja yang unik dan ‘kamu banget.’ Misal seorang yang suka desain, mulai posting cerita di IG dengan menonjolkan kekuatan visualnya, desainnya. Yang suka nulis bisa membagikan puisi atau cerita pendek buatannya ke medsos.
Yang jadi masalah adalah kalo kamu masih nggak tahu apa yang kamu suka. Nah..
Waktu lagi masa skripsi dan agak luang karena sudah nggak ada jadwal kelas, setelah baca bukunya Austin Kleon yang berjudul Show Your Work! sambil jalan di tangga kampus saya mikir, apa yang saya punya dan bisa saya bagikan ke orang lain selain cerita pribadi? Apa yang saya suka? karena saya suka baca, akhirnya saya buka akun resensi buku (juga bahas segala yang nyambung ke literasi) di Instagram.
Juga bikin channel YouTube, yang awalnya buat sekedar tempat curhat publik hal-hal yang saya susah nemu orang yang bersedia dengerin. Lol. Video pertama saya waktu itu ngomongin pengalaman mengerjakan skripsi. Dari situ muncul video-video lainnya, walaupun angka views-nya segitu-gitu aja. Tapi saya gak akan lupa waktu suatu hari ada junior di kampus yang dengan semangat teriak dari seberang jalan,"Kak, aku nonton video kakak, lho!" dan bikin saya malu diliatin orang XD. Ternyata hal sederhana itu bikin suasana hati saya yang lagi nggak bagus jadi membaik, mengetahui bahwa ada seseorang yang merasa dapat sesuatu dari apa yang saya kerjakan.
Kalo masih bingung, lebih baik banyak baca dan belajar. Buku-bukunya Austin Kleon, blognya, blog Mbak Puty Puar, newsletter Aida Azlin, adalah beberapa favorit saya buat cari inspirasi dan kata penyemangat. Menemukan orang yang karyanya kita suka dan kita jadikan teladan adalah salah satu jalan menemukan kata ajaib itu, passion. Menyukai karya itu beda sama ngefans sama orangnya. Suka sama selebriti atau influencer nggak tentu bikin orang tergerak buat jadi belajar akting atau bikin konten. Apalagi kalo patokannya ‘biar terkenal’ atau ‘biar dapat endorse kayak si A’.
Memaksimalkan media sosial nggak selalu berarti biar dapat endorse-an, atau dikontrak buat jadi brand ambassador sebuah brand. Memang benar sih ada orang yang dapat pekerjaan semata karena dia terkenal aja, atau terkenal dulu, tapi butuh waktu berapa lama sampe follower saya, misalnya, mencapat ratusan ribu? Lebih baik, dan lebih bertahan lama terkenal karena karya daripada terkenal karena..apa, kontroversi? Skandal? Orang yang terkenal karena gosip menurut saya polanya kebaca: cepat naik, tapi cepat juga turunnya.
Sejujurnya nih, saya belum pernah dikontak orang untuk ditawari pekerjaan karena media sosial seperti Sophia Mega. Tapi karya yang saya bagi di medsos itu pernah jadi bahan diskusi pas wawancara kerja dan menghubungkan saya sama orang-orang yang seminat sama saya, dapat teman baru, ilmu baru. Dan yang terpenting: baper saya selama masa mencari kerja berkurang karena saya sibuk. Bahkan kalopun sibuk itu berarti lebih banyak beres-beres rumah, jauh lebih baik daripada overthinking dan mikir macam-macam.
Pernah nggak sih ngerasa bisa lebih mikir jernih setelah beres-beres atau ngelakuin apapun yang bikin badan gerak aktif? Itu maksud saya. Bonusnya lagi bikin ibu kita di rumah jadi lebih hepi.
“Jika membandingkan betapa susahnya mencari pekerjaan dengan melamar secara mandiri dan mendapat tawaran pekerjaan berkat apa yang saya bagikan di media sosial, ternyata media sosial bisa sangat powerful untuk urusan ini. Meskipun kita bukanlah selebgram dengan followers ribuan.”
- Sophia Mega, Lo Ngerti Siapa Gue
Wow. Ini tepat sekali, pikir saya. Beberapa waktu lalu sepupu saya cerita mengenai susahnya mencari pekerjaan. Dia baru lulus S1 awal 2020 lalu. Yah, nggak usah lagi pandemic Covid-19, di keadaan biasa aja cari kerja susah. Ngirim belasan, bahkan puluhan lamaran kerja sebelum dapat panggilan wawancara bukan hal baru (terutama kalo targetnya yang disasar korporasi besar). Baru wawancara ya, belum ditawarin pekerjaannya. Optimasi media sosial selagi menunggu panggilan wawancara kerja bisa jadi sesuatu yang bikin kita tetap sibuk dan, bisa jadi jalan dapat pekerjaan juga.
Apa yang dibagi? Ya, apa aja yang unik dan ‘kamu banget.’ Misal seorang yang suka desain, mulai posting cerita di IG dengan menonjolkan kekuatan visualnya, desainnya. Yang suka nulis bisa membagikan puisi atau cerita pendek buatannya ke medsos.
Yang jadi masalah adalah kalo kamu masih nggak tahu apa yang kamu suka. Nah..
Waktu lagi masa skripsi dan agak luang karena sudah nggak ada jadwal kelas, setelah baca bukunya Austin Kleon yang berjudul Show Your Work! sambil jalan di tangga kampus saya mikir, apa yang saya punya dan bisa saya bagikan ke orang lain selain cerita pribadi? Apa yang saya suka? karena saya suka baca, akhirnya saya buka akun resensi buku (juga bahas segala yang nyambung ke literasi) di Instagram.
Juga bikin channel YouTube, yang awalnya buat sekedar tempat curhat publik hal-hal yang saya susah nemu orang yang bersedia dengerin. Lol. Video pertama saya waktu itu ngomongin pengalaman mengerjakan skripsi. Dari situ muncul video-video lainnya, walaupun angka views-nya segitu-gitu aja. Tapi saya gak akan lupa waktu suatu hari ada junior di kampus yang dengan semangat teriak dari seberang jalan,"Kak, aku nonton video kakak, lho!" dan bikin saya malu diliatin orang XD. Ternyata hal sederhana itu bikin suasana hati saya yang lagi nggak bagus jadi membaik, mengetahui bahwa ada seseorang yang merasa dapat sesuatu dari apa yang saya kerjakan.
Kalo masih bingung, lebih baik banyak baca dan belajar. Buku-bukunya Austin Kleon, blognya, blog Mbak Puty Puar, newsletter Aida Azlin, adalah beberapa favorit saya buat cari inspirasi dan kata penyemangat. Menemukan orang yang karyanya kita suka dan kita jadikan teladan adalah salah satu jalan menemukan kata ajaib itu, passion. Menyukai karya itu beda sama ngefans sama orangnya. Suka sama selebriti atau influencer nggak tentu bikin orang tergerak buat jadi belajar akting atau bikin konten. Apalagi kalo patokannya ‘biar terkenal’ atau ‘biar dapat endorse kayak si A’.
Memaksimalkan media sosial nggak selalu berarti biar dapat endorse-an, atau dikontrak buat jadi brand ambassador sebuah brand. Memang benar sih ada orang yang dapat pekerjaan semata karena dia terkenal aja, atau terkenal dulu, tapi butuh waktu berapa lama sampe follower saya, misalnya, mencapat ratusan ribu? Lebih baik, dan lebih bertahan lama terkenal karena karya daripada terkenal karena..apa, kontroversi? Skandal? Orang yang terkenal karena gosip menurut saya polanya kebaca: cepat naik, tapi cepat juga turunnya.
Sejujurnya nih, saya belum pernah dikontak orang untuk ditawari pekerjaan karena media sosial seperti Sophia Mega. Tapi karya yang saya bagi di medsos itu pernah jadi bahan diskusi pas wawancara kerja dan menghubungkan saya sama orang-orang yang seminat sama saya, dapat teman baru, ilmu baru. Dan yang terpenting: baper saya selama masa mencari kerja berkurang karena saya sibuk. Bahkan kalopun sibuk itu berarti lebih banyak beres-beres rumah, jauh lebih baik daripada overthinking dan mikir macam-macam.
Pernah nggak sih ngerasa bisa lebih mikir jernih setelah beres-beres atau ngelakuin apapun yang bikin badan gerak aktif? Itu maksud saya. Bonusnya lagi bikin ibu kita di rumah jadi lebih hepi.

Comments
Post a Comment