Kopi dan Kangen Sekolah

Photo by Feliphe Schiarolli on Unsplash

Sesi minum kopi hari ini sungguh acak (seperti biasanya). Setelah melalui setengah siang kerja dari rumah yang hening tiba-tiba kecetus, ‘Eh, minum kopi kayaknya enak, nih.’
Saya pesan kopi seliter yang lagi banyak ngetren sejak Coronavirus masuk ke Indonesia, padahal di rumah yang minum kopi saya sendiri doang. Dan kopi racikan barista ngga tahan disimpan lama-lama, rasanya bakal berubah (dan confirmed pas pesanan saya datang, ada keterangan di botol untuk dihabiskan dalam 3 hari).

Sambil menyesap kopi, saya nulis catatan untuk laporan akhir sebagai guru kelas ekskul menulis SD yang jadi pekerjaan paruh waktu saya. Tiba-tiba perasaan kangen sekolah menyeruak (ceilah). Saya kangen semuanya: bukan hanya anak-anak yang saya ajar, tapi juga kantin, bangku-bangku depan pos satpam yang jadi tempat anak-anak nunggu jemputan, riuh rendah suara mereka yang bergegas keluar kelas ketika jam sekolah selesai.
Ketika sekolah diliburkan, ehm, diubah jadi dari rumah, otomatis kelas ekskul jadi nggak ada. I’m gonna tell u what, I’m not really good at teaching. Yet. Saya selalu khawatir sebelum kelas. Bakal seperti apa hari ini? Saya sering sakit perut mendadak pas mendekati jam ngajar, atau keringetan pas mau naik ojol ke sekolah. Setiap kali kelas diliburkan (re: ditunda) karena anak-anak lagi ujian, atau hari ekskul kena tanggal merah, saya sering bernapas lega. Ampe sempat mikir, kamu ngapain jadi guru sih, kalo tegang tiap mau ketemu anak-anak ini?

Biasanya kalo suasana hati saya bagus, energinya akan nular ke anak-anak. Kalo nggak, mereka juga entah kenapa jadi ada aja tingkahnya. Lebih rame dari biasa, lebih nggak fokus. Walaupun dalam 1 kelas saya nggak ngajar sendiri. Dari semua suka nggak suka sebagai guru, di sinilah saya sekarang, dua bulan lebih nggak ketemu sekolahan, dan tiba-tiba kangen. Mungkin juga karena, ketika melihat anak sekolah SD (dan SMP yang gedungnya sebelahan) itu, saya teringat masa sekolah saya sendiri, betapa nggak bahagianya saya saat seumur mereka: nggak punya teman, periode diabaikan, lalu dibully, ngerasa worthless, helpless; akhirnya bersyukur karena bisa melewatinya, dan kenyataan kalo sekarang saya baik-baik saja.

Apakah hidup sempurna? Ngga, tapi saya belajar membela diri saya sendiri. Saya belajar menghargai pendapat saya, walaupun orang lain menganggapnya enteng. Saya ketemu teman-teman yang menerima saya apa adanya, sekaligus mendorong saya maju. Mereka yang nggak nunggu saya sesuai keinginan mereka baru mau berteman. Lebih akur sama kakak adik saya, yang dulu kerjaannya berantem terus. I think I used to took home my frustation from school and put it on them.

Masa sekolah SD dan SMP nggak bahagia? Oh, bisa aja.
Tanya ke mereka yang pernah mengalami bullying seperti saya.

Comments