Resensi Buku Kaum Rebahan Beri Perubahan

Ok, lemme tell you first: this is not going to be a nice review. Promise me you won’t be mad. Actually you can, just don't tell me.
Buku ini nyarinya udah susah, akhirnya saya nemu di sebuah toko buku online dan lama banget prosesnya mulai dari pesan sampe tiba di rumah. Ada aja masalahnya. Konfirmasi pembayaran nggak kedetect sistemnya, ngehubungin CS, udah kelar; ada buku lain yang saya pesan disitu nggak ada akhirnya minta sebagian dananya dikembalikan.

Biasanya saya nggak akan mau melalui keribetan semacam itu demi beli sebuah buku. Tapi ya, karena penasaran sama hype penulisnya, M. Atiatul Muqtadir atau Fathur, aku merasa harus baca bukunya buat ngedapetin sudut pandang yang lebih objektif.
It was so hard for me to get this book, and I was disappointed by it.
There are better non-fiction motivational self-help-self-development books out there, to say the least.

Konsep bukunya bagus, sesuai judul, untuk memotivasi anak muda buat membawa perubahan. Perubahan apa? Ya ke arah yang lebih baik. Titik. Habis baca buku ini saya keingat omongan booktuber Jordan Harvey di resensi bukunya: the idea was good but the execution was lackluster. Can’t put it better.

Meskipun konsep awalnya bagus, tapi hasil akhirnya kurang. Buku yang saya punya adalah cetakan ke-3, terbit Mei 2020. Fathur lahir tahun 1998, berarti usia penulisnya saat ini 22 tahun. Kenapa saya nyebut soal usia? Karena premis yang banyak digadang di media sosial sekaran ini adalah gerakan anak muda, gerakan perubahan. Kita sebagai anak muda usia 20an spoiled karena dibikin terlena dengan segala mimpi menjadi penggerak perubahan, tapi ide yang ditawarkan nggak lengkap. Kayak beli sepatu cuma sebelah. Sebagus apapun sepatunya nggak bakal berguna buat melindungi kaki ketika dipakai.

Kritik saya buat Kaum Rebahan Beri Perubahan adalah topik yang diambil banyak, tapi pembahasan di tiap topik terlalu sedikit. Bukan berarti semua buku yang ditulis anak muda nggak bagus, saya nemu beberapa yang lumayan, tapi biasanya buku-buku tersebut punya kesamaan: mereka fokus. Seperti Sophia Mega yang bahas personal branding di media sosial, mulai dari bahas ide konten sampe tips-tips optimasi Instagram.

Sementara buku ini terbagi dalam 3 bab: Alasan Harus Berubah, Starter Pack Kaum Perubahan, dan Penutup. Dengan subjudul-subjudul lagi, semuanya pendek-pendek, dipenuhi anekdot kisah hidup orang-orang terkenal dan perjuangan mereka menggapai mimpi. Kebetulan, kebetulan nih ya, beberapa kisah yang dikutip dalam buku ini udah saya tahu, beberapa buku dan hasil penelitian yang disebut sebagai referensi pernah juga saya baca. Jadi saya punya pembanding. Di mana saya ngerasa bagian yang dikutip bukan inti buku tersebut, bukan bagian yang paling layak (ini subjektif memang) buat dibahas. Misalnya subbab tentang kegigihan berjuang mencapai mimpi. Atau diagram Ikigai yang disebut dalam buku.

Saya ngerasa Fathur di buku ini lagi ngomong sama orang-orang yang mirip dia; udah punya gambaran kekuatan dan kelemahan dirinya. Masalahnya banyak anak muda yang jadi sasaran pembaca bukunya masih galau soal segala hal. Boro-boro rencana hidup 5 tahun ke depan, misalnya, seminggu ke depan aja belum tau punya target capaian apa.
Minat apa? Belum tahu.
Jenjang karir mau gimana? Belum kebayang.
Mimpi besar apa? Masih di awang-awang.

Diksi yang dipakai (hayo, diksi itu apa? :D) juga terlalu ‘bersayap’. Saya merhatiin banyak kalimat yang berima semacam,
“Takkan padam api semangat dalam hati, meski harus dicaci. Karena yang membuat kita berhenti, hanya bila telah mencapai puncak mimpi!”
Oke. Kalimat ini kedengerannya bagus, tapi di pikiran saya: apa maksudnya? Dicacinya kenapa dulu nih? Puncak mimpi standarnya apa, gimana kita tahu udah sampe puncak? Terus habis berhenti udah nggak ngapa-ngapain lagi?

Jujur saya kesulitan memahami kata-kata model begini. Nggak semua bagian sepuitis ini, ada beberapa subbab yang lebih jelas dan saya suka, tapi secara keseluruhan saya nggak rekomendasi buat baca ini kalo mau dapat gambaran yang (lebih) utuh soal membawa perubahan. Whatever that means.
Sempat kepikir mungkin bakal lebih menarik kalo selanjutnya Fathur nulis buku nonfiksi lagi, topiknya spesifik semisal tentang memimpin organisasi mahasiswa, dengan pengalamannya sebagai presma BEM KM UGM 2019, dan 2 tahun sebelumnya jadi ketua organisasi di fakultas. Gimana menyelesaikan konflik antardivisi, ngurusin staf yang hilang-hilangan, sampe bagi waktu antara kerja organisasi dan kewajiban akademik. Sesuatu yang emang udah cukup dipahami sama si penulis. Just a thought.

Walaupun menurut saya buku ini kurang matang dalam eksekusinya, tapi pengalaman udah nerbitin buku di usia awal 20-an layak diapresiasi. Yah, gimanapun juga buku pertama. There’s always a first for everything.

Comments

Post a Comment