Apa bedanya budaya korporat dan start up?
Setelah bekerja full-time kurang lebih setahun sejak lulus kuliah, saya kadang kepikir apa jawaban dari pertanyaan ini. Beberapa waktu lalu saya ngisi sebuah form dan ketemu sama pertanyaan, “Apa yang menurut kamu paling penting di tempat kerja?”
Ada beberapa pilihan jawaban mulai dari teknis seperti gaji, sampai idealis macam kontribusi sosial dan misi yang dibawa perusahaan. Sebagai fresh graduate, saya tahu jawaban saya pasti berkisar antara misi dan dampak sosial perusahaan. Sekarang? Dengan yakin saya memilih lingkungan atau budaya kerja. Mungkin ini pengaruh habis baca buku Bad Blood dan kepapar cerita tentang budaya kerja toxic di Theranos, ditambah pengalaman kerja saya sendiri.
Misi perusahaan itu penting,
jangan salah. Tapi misi seringkali lebih untuk orang luar, bagaimana mereka
melihat brand perusahaan tersebut. Buat karyawan, bagaimana kita diperlakukan
yang paling menentukan seberapa betah kita di tempat kerja. Akhirnya
berpengaruh ke kinerja, juga ke performa perusahaan dalam jangka panjang.
Apalagi buat generasi milenial
yang katanya tukang protes. Juga generasi-generasi di bawahnya, yang suka
dibahas di buku-buku dan podcast. Ah, saya nggak kepingin nyalahin siapa-siapa.
Bukan berarti generasi yang lebih tua nggak ada yang tukang protes, kan? Kebetulan belum
ada media sosial aja buat menyebarkan aib orang dengan cepat.
Kenapa saya memilih budaya kerja?
Kalo ngutip kalimat T.S. Eliot, kita
tidak mengukur kehidupan dengan sendok kopi, bahkan dalam kerja paling rutin
sekalipun. Maksudnya? Menurut Prof Dan Ariely dalam buku Alasan Kita Rela Menderita, motivasi
itu sesuatu yang rapuh. Iya sih, kita punya tanggung jawab memotivasi diri
sendiri. Bersikap profesional. Tapi pada taraf tertentu kita butuh dukungan
sekitar supaya terus termotivasi. Justru terutama dalam lingkup profesional.
Bukan berarti seorang manajer
misalnya, harus memulai hari dengan “Halo semuanyaa, semangat ya hari ini
kerjanyaa,” (walaupun itu salah satu cara) tapi bagaimana kita dibuat merasa pekerjaan
kita dihargai meskipun kita menerima kritik, jenis apresiasi, dan titik-titik
kritis lainnya. Ekspektasi yang jelas adalah salah satu nilai ukur budaya kerja
yang sehat menurut saya. Ekspektasi bisa berubah sewaktu-waktu, tentu. Tapi kalo
terlalu sering jadinya ganggu.
Salah satu contoh yang bikin saya
nggak betah bekerja bersama seseorang adalah ketika misalnya, saya sebagai
penulis diberi tugas menulis artikel dan dibilang boleh menulis topik apa saja
yang saya mau tapi ketika topik pilihan saya sudah selesai ditulis dan saya laporan,
mendadak disuruh diganti. Terus saya kebirit-birit nulis artikel baru dengan topik
baru. Jadi kerja dua kali, kan?
Lalu apa bedanya budaya korporat
dan start up?
Yah, sejujurnya, bergantung perusahaannya. Asumsi orang di start up lebih fleksibel, terbuka, bisa belajar lebih banyak. Belum tentu. Sama seperti korporasi juga belum tentu kaku. Mungkin bedanya adalah sistem di korporasi sudah lebih teratur, jadi kesannya kaku. Wow, ketakutan terbesar milenial nggak sih, diatur?
Tapi kita ngga sadar terkadang keteraturan yang tepat dibutuhkan untuk memicu kreativitas. Seperti ekspektasi yang jelas soal tugas tadi. Kalo terlalu 'fleksibel' malah bikin pusing. Nasihat om Austin Kleon di Steal Like an Artist, jangan takut sama keterbatasan.

Comments
Post a Comment