Era Ketika Berpikir Perlu Diajarin, Antara Harapan dan Frustasi

 


Photo by Aaron Burden on Unsplash 

Saya suka kebenaran sederhana dari kalimat Oliver Burkeman ini:

The solution to imposter syndrome is to see that you are one. When I first wrote about how useful it is to remember that everyone is totally just winging it, all the time, we hadn’t yet entered the current era of leaderly incompetence (Brexit, Trump, coronavirus). Now it’s harder to ignore. But the lesson to be drawn isn’t that we’re doomed to chaos. It’s that you – unconfident, self-conscious, all-too-aware-of-your-flaws – potentially have as much to contribute to your field, or the world, as anyone else.”

Wow. Baru kemarin saya ngobrol sama kakak, Mba Iy soal kondisi politik di tengah pandemi, sampe isu Pakta Integritas UI yang bikin geleng-geleng kepala. Bagian terakhir kalimat Oliver Burkeman bikin saya jadi, ya, punya harapan. Kalo orang-orang yang nggak kompeten bisa dapat jabatan penting, bukan berarti kita harus putus asa. Mereka bisa berkontribusi, tapi kontribusinya nggak baik. Lalu ngapain kita buang-buang waktu mikirin itu? Harusnya mikirin gimana kita berkontribusi kebaikan, cause we’re better than them, right?

Kalo kata Z, adik saya waktu weekend dia pulang ke rumah dari kosan, orang bisnis pake nipu (kasus penipuan korporasi Theranos dan Jouska) aja pede, masa yang mau berbisnis jujur nggak pede. Framework ini bisa berlaku juga untuk hal-hal lain.

Masalah orang di zaman modern ini bukan kebanyakan baper aja, tapi kebanyakan baper buat hal yang nggak penting. Insecure buat hal-hal yang nggak perlu di-insecure-in.  Thanks to influencers dan media yang kurang bertanggung jawab. Baru beberapa waktu lalu juga aku baca info workshop buat critical thinking. Hah? Berpikir kritis emang mesti banget ada pelatihannya ya? Lucu aja ngelihatnya. Kemampuan berpikir bukannya yang membedakan manusia dengan binatang? Yang bikin orang bisa buat perkakas pertanian sampe pesawat terbang?

Baca aja buku dan artikel bagus, ngobrol sama orang-orang yang bisa dipercaya ngasih nasihat jujur. Rasanya udah lebih dari cukup. Yah, tapi mungkin kita memang berada di zaman yang disebut Gitasav generasi tutorial, sampe bagaimana berpikir aja mesti diajarin pake workshop*.

Mr. Burkeman di kolom terakhirnya di The Guardian juga bilang:

The advice you don’t want to hear is usually the advice you need. The broader point here is that it isn’t fun to confront whatever emotional experiences you’re avoiding – if it were, you wouldn’t avoid them- so the advice that could really help is likely to make you uncomfortable. (You may need to introspect with care here, since bad advice from manipulative friends or partners is also likely to make you uncomfortable).”

Ah, penyebutan teman yang manipulatif mengingatkan saya sama obrolan dengan Mba Iy (lagi). Bagaimana pengalaman bertemu orang manipulatif membentuk karakter Hanifa. Saya benci kalimat-kalimat tidak langsung, ambigu, bisa bermakna ganda. Saya menyatakan dengan jelas ke orang-orang -terutama yang harus kerja bareng- kalau saya tidak suka dan tidak menerima dikodein (emang kita lagi apa, latihan pramuka?). Lebih baik berantem sekalian dan habis itu masalah selesai daripada kebanyakan menahan diri tapi cuma membuat persoalan menumpuk.

Orang manipulatif suka dengan ambiguitas. Itu adalah senjata mereka. Entah mereka sadar maupun tidak, ya, saya bukan ahli psikologi, opini berdasarkan pengalaman aja. Pada akhirnya ngga semua hal perlu dibuat ribut atau diperdebatkan. Disitulah penetapan prioritas masuk.

Di pertengahan 20-an, salah satu perkembangan terbesar yang saya rasakan adalah saya nggak lagi merasa bersalah ketika disalahkan atas sesuatu yang bukan kesalahan saya. Saya bisa membedakan mana orang yang datang dengan saran tulus, mana yang seolah-olah ngasih saran tapi sebenarnya berniat melempar kesalahan dia ke kita. Dengan kata lain, mana orang yang peduli dan mana yang manipulatif.

Walaupun penilaian saya tidak sempurna, setidaknya lebih sering benar daripada salahnya.

Banyak orang lebih suka menghindari dibanding menyelesaikan masalah atau pola komunikasi yang buruk. Tapi saya belajar lewat turbulensi organisasi – di kampus, juga tempat kerja- bahwa menghindari masalah nggak akan membuatnya menghilang. Cuma menumpuk dan membesar sampe nanti jadi nggak bisa kita tangani lagi. dan saya juga jadi sering makan hati karena merasa nggak dipahami. Setiap harus bikin keputusan; pilih mana, hadapi atau lari, saya kepikir hal ini.  

Itu sebabnya mungkin kenapa kalo lagi penutupan kepengurusan organisasi, atau acara outing di tempat kerja, ketika bagian apresiasi hampir pasti pada bilang kak Hanifa orangnya: kritis, bisa diajak diskusi masalah rumit, wawasannya luas, etc tapi jarang yang bilang: orangnya sabar, baik hati, atau ceria.

Ok. I’m fine with that. I used to feel insecure, like people accusing me of always nagging (which sometimes I do) them, but now it’s fine.

 

*Note: Bukan berarti berpikir kritis itu bisa otomatis, tetap butuh dilatih, just.. I think you can, or at some point even should, learn it by yourselves.

Comments