Pede jadi diri sendiri.
Ada yang suka bingung sama jargon
sejenis ini?
Kalo kata penulis Marion Bauer, seseorang selalu penuh dengan kontradiksi. Nggak ada yang sepenuhnya hitam putih di dunia
ini, kecuali karakter fiksi. Entah
kenapa kalo lihat postingan motivasi atau judul buku ‘motivasi’ akhir-akhir
ini, saya malah makin merasa nggak termotivasi.
Di satu sisi, ada hal-hal yang
mestinya nggak usah dipikirin, tapi dibahas. Diributin. Cerita pelakor rumah tangga orang lain di twitter atau perkara Niall Horan belum denger lagu BTS aja bisa jadi trending. Di sisi lain ada hal penting yang dianggap angin
lalu, atau dibuat seolah jadi remeh.
Kontradiksi yang dibilang Ms.
Bauer ada benarnya, karena di bukunya What’s
Your Story, Ms. Bauer lagi ngomongin bagaimana penulis cerita bisa membuat
karakter fiksi yang kerasa nyata, yaitu tokoh-tokoh cerita tersebut harus punya
kontradiksi. Kontradiksi tidak selalu berarti orang nggak jujur atau bermuka
dua dalam arti negatif.
Dalam kasus saya, saya banyak
ngomongin buku di Instagram, di blog, pas lagi ngobrol sama orang-orang. Tapi
saya juga denger lagu K-pop, walaupun nggak lagi ngikutin berita artisnya. Saya
nonton K-drama, c-drama, bahkan diambil jadi inspirasi tulisan blog. Saya kadang baca cerita ringan kayak
chicklit, novel fantasi anak-anak, tapi juga pembaca setia novel thriller,
dari cerita teka-teki detektif semacam Sherlock Holmes sampai karya Chris
Carter yang punya adegan berdarah-darah.
Rasanya kita di jaman sekarang
kita terlalu pusing sama klasifikasi, pembagian-pembagian, bahkan dalam hal
minat atau hobi. Seolah-olah kalo kita suka A maka nggak mungkin, atau nggak
boleh, suka B. Mau pede jadi diri sendiri semakin membingungkan karena takut
dinilai plin-plan.
Padahal, kalo kata blogger Austin Kleon, “Saat
berbagi selera dan sumber pengaruh, beranikan diri mengakuinya. Jangan menyerah
pada tekanan untuk terlalu mengoreksi diri,” karena “terbuka dan jujur akan apa
yang kamu sukai adalah cara terbaik untuk dekat dengan orang-orang yang
berminat sama.”
Mungkin bisa dimulai dari meneladani kreator di bidang yang kita minati, seperti saya yang ngefans sama prinsip berkarya ilustrasi Mbak Puty Puar.

Comments
Post a Comment