Satu bagian dari hidup ini tutup buku.
Saya pindah kerja. Lebih tepatnya berhenti, setelah kurang lebih setahun kerja.
Awal bulan November 2020 ini. Di usia dua puluhan tengah ke atas ini.
Implikasinya ternyata cukup
kerasa, apalagi setelah denger cerita-cerita soal beban finansial orang lain, saya
mah ga ada apa-apanya. Bukan soal mendadak jadi berkekurangan, tapi saya
bertanya-tanya sebenarnya keputusan ini tuh tepat nggak sih?
Apa memang terbaik memutuskan
keluar?
Atau saya yang manja dan kurang
sabar aja sama ketidaknyamanan? (Padahal sebelumnya nulis postingan soal jangan buru-buru, deuh)
Saya nggak nganggur total sih, cuma
pekerjaan yang saya jalani sekarang bersifat proyek, alias freelance. Habis itu
masih nggak tahu mau kemana soalnya ngirim lamaran ke sana kemari belum ada
yang nyangkut.
“Semoga menemukan apa yang dicari,” kata rekan kerja di kantor lama pas farewell virtual (pandemi style) beberapa waktu lalu. Aduh, saya aja masih ngga yakin apa yang dicari. Selain manfaat finansial, apalagi ya?
Krisis idealisme. Sepertinya. Bahkan ini aja nggak kerasa meyakinkan. Tapi ya, mungkin begini mesti dilewati, apa aja deh sebutannya yang penting seperti kata Tiara, blogger sekaligus social media specialist, kita bisa menikmati dua puluhan tahunan dengan segala asam-manis-pahitnya*.
Belum lagi mikirin mssalah yang ngga ada hubungannya sama hidup kita, seperti postingan anak fresh graduate yang penuh dengan kata-kata manis nan romantis. Haha, lihat aja beberapa bulan lagi nanti, nak, masih bisa bikin postingan puitis atau nggak. Tuh, kan.
*Sebut aja: Masih sendiri ketika teman-teman udah pada nikah, masih kerjaan gini, masih ini itu lainnya.
Comments
Post a Comment